Oleh:Dikdik Sadikin
PADA Jumat, 2 Oktober 2026, Istana Negara kembali dipenuhi orang-orang yang mengucapkan sumpah.
Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Pratikno menjadi Ketua, Hatta Rajasa Wakil Ketua, dan Muhammad Qodari Sekretaris.
Baca Juga: Ini Daftar 19 Kapolda yang Diganti Kapolri Suyudi: Sonny Irawan Pimpin Polda Sumut, Whisnu Hermawan Jadi Wairwasum Di dalam barisan itu ada mantan pejabat tinggi, pengusaha, ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat: Chairul Tanjung, Sinta Nuriyah Wahid, M. Quraish Shihab, Budi Gunawan, Anwar Usman, Rocky Gerung, hingga Ignasius Jonan (ANTARA, 2 Oktober 2026).
Mungkin pemerintahan memang memerlukan banyak telinga. Namun, pertanyaannya bukan berapa banyak telinga yang tersedia.
Pertanyaannya: berapa banyak suara yang berani mengatakan sesuatu yang tak ingin didengar Presiden?
Nasihat selalu mempunyai hubungan yang aneh dengan kekuasaan.
Seorang penasihat harus cukup dekat agar suaranya terdengar, tetapi juga cukup jauh agar pandangannya tidak kabur oleh kedekatan.
Machiavelli sudah memikirkan persoalan itu hampir lima abad lalu. Dalam Bab XXIII The Prince, ia memperingatkan penguasa tentang bahaya para penjilat.
Seorang penguasa, katanya, perlu memilih orang-orang bijak dan memberi mereka kebebasan mengatakan kebenaran.
Rupanya problem Istana tidak banyak berubah. Kekuasaan tak pernah kekurangan orang yang pandai menyenangkan telinga.
Yang langka adalah seseorang yang tahu kapan harus berkata tidak.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259