Oleh:Werdha Candratrilaksita
RESHUFFLE lazimnya menjadi cara seorang presiden memperkuat kendali terhadap pemerintahannya.
Menteri yang dinilai tidak lagi sesuai kebutuhan, diganti pejabat yang dianggap mampu dipromosikan, dan konfigurasi kabinet disusun kembali agar semakin sejalan dengan arah kebijakan presiden.
Baca Juga: Wantimpres Prabowo Lebih Gemuk, Pengamat: Pembagian Tugas Harus Jelas Namun, dua reshuffle terakhir Presiden Prabowo Subianto membuka pembacaan analisis yang lebih menarik.
Reshuffle disinyalir semakin mengeratkan konsolidasi kekuasaan Presiden Prabowo dengan mantan Presiden Jokowi.
Setidaknya terdapat tiga bacaan analisis pada dua kali reshuffle yang hanya berselang satu bulan, yaitu: pertama, kesinambungan orang-orang yang dipromosikan pada era Presiden Jokowi; kedua, kebutuhan Presiden Prabowo untuk menjaga keseimbangan politik menjelang perubahan aturan elektoral seperti ambang batas parlemen dan ambang batas pencalonan presiden; ketiga, kemungkinan, kekuatan politik Presiden Jokowi tetap mempunyai nilai tawar dalam pemerintahan Presiden Prabowo.
Alih-alih memperlihatkan pelepasan dari pemerintahan sebelumnya, sejumlah figur yang kariernya menanjak pada era Presiden Joko Widodo justru memperoleh posisi yang semakin strategis.
Suahasil Nazara naik menjadi Menteri Keuangan.
Bahlil Lahadalia tetap menjadi Menteri ESDM sekaligus memperoleh jabatan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.
Listyo Sigit Prabowo bergeser dari Kapolri menjadi Kepala Staf Kepresidenan.
Dudung Abdurachman menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Fadil Imran kembali memperoleh posisi di pemerintahan.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259