Oleh:Furqan Jurdi
PADA 1776, koloni-koloni Amerika diguncang pamflet anonim berjudul Common Sense.
Tulisan itu tersebar ke seluruh koloni, dicetak berulang kali di surat kabar, dijual, disebarkan, dan dibaca berulang-ulang di kedai minuman serta tempat pertemuan.
Baca Juga: Bukan Dilarang, Ini Batasan Berhias bagi Perempuan dalam Islam "Masyarakat dihasilkan oleh kebutuhan kita, pemerintah atau negara dihasilkan oleh kejahatan kita."
Demikian potongan kalimat yang paling tajam di dalamnya.
Setelah beredar luas dan memicu perdebatan, barulah diketahui bahwa penulisnya adalah Thomas Paine, seorang penulis revolusioner yang tinggal di Amerika Britania.
Dalam Common Sense yang dicetak 10 Januari 1776 itu, Paine menegaskan bahwa masyarakat berfungsi sebagai organ yang meningkatkan kebahagiaan secara positif dengan menyatukan kasih sayang di antara manusia.
Sebaliknya, negara atau pemerintah merupakan bentuk negatif dari organ yang dibutuhkan. Pemerintah hadir untuk mengekang kejahatan.
Masyarakat mendorong interaksi; pemerintah menciptakan perbedaan. Masyarakat adalah pelindung; pemerintah adalah penghukum.
Berabad-abad kemudian, dalam tradisi pemikir Islam, muncul tokoh yang paling terkemuka: Sayyid Abul A'la al-Maududi.
Para pemikir Islam modern menjulukinya sebagai neo-fundamentalis.
Al-Maududi memiliki pandangan yang hampir sebangun dengan gagasan Paine tentang pemerintahan.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259