Oleh:Muhardis
ADA alasan mengapa kita lebih mudah mengingat "sapu lidi" daripada "penguatan kapasitas ekonomi berbasis kolektivitas".
Baca Juga: UMKM Wajib Tahu! KUR BCA 2026 Resmi Dibuka, Pinjaman Rp100 Juta Bisa Dicicil Mulai Rp1,9 Juta per Bulan Ada alasan pula mengapa masyarakat lebih cepat menangkap istilah "orang miskin" dibandingkan "masyarakat desil bawah" atau "kelompok berpendapatan rendah".
Bahasa memiliki hukumnya sendiri. Ia tidak selalu berpihak pada ketepatan. Sering kali ia berpihak pada kesederhanaan stuktur.
Terkait hal itu, menarik mencermati pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut koperasi sebagai "alat orang miskin" dan mengibaratkannya seperti sapu lidi yang menjadi kuat ketika disatukan (Kompas.com, 13/07/2026).
Terlepas dari perdebatan mengenai kebijakan koperasi, pernyataan tersebut menyimpan pelajaran menarik mengenai bagaimana bahasa bekerja dalam ruang publik.
Pilihan kata pertama yang menonjol adalah kata "alat". Dalam kehidupan sehari-hari, alat identik dengan fungsi.
Pisau adalah alat untuk memotong. Jaring adalah alat untuk menangkap ikan. Cangkul adalah alat untuk mengolah tanah.
Alat bukan sesuatu yang abstrak, ia adalah sesuatu yang dapat dipegang, dipakai, dan dimanfaatkan.
Ketika koperasi disebut sebagai "alat orang miskin", koperasi tidak lagi hadir sebagai konsep ekonomi yang rumit atau lembaga yang penuh prosedur administratif, bukan?
Ia berubah menjadi sesuatu yang konkret dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259