Oleh:Boy Anugerah
HUBUNGAN antara Joko Widodo (Jokowi) dan PDI-P kembali menegang ketika Presiden RI ke-7 tersebut melancarkan safari politiknya ke daerah-daerah dengan jubah PSI.
Beberapa elit PDI-P melancarkan kritik tajam dengan menyebut sosok yang baru saja ditahbiskan gelar "Baginda Pemuka Bangsa" oleh masyarakat Lampung tersebut sedang melakukan manuver dini menuju Pilpres 2029.
Baca Juga: Wapres Gibran Keliling Indonesia Timur, Istana: Presiden Prabowo Mengetahui Seluruh Agenda Elit-elit banteng moncong putih juga semakin meradang karena beredarnya foto dan video di media sosial yang menunjukkan Jokowi meletakkan kaki di atas kepala kerbau untuk sebuah ritual adat—ada yang mengasosiasikan kerbau dengan logo banteng PDI-P.
Tak pelak, adegan tersebut menambah panas suhu konflik di antara kedua pihak yang nyaris tak pernah padam.
Ada sisi menarik dalam relasi antara Jokowi dan PDI-P.
Poin menariknya bukan terletak pada fakta historis bahwa tingkat keterpilihan Jokowi yang tinggi pada 2014 mampu melambungkan PDI-P ke puncak kekuasaan setelah PDI-P mengalami kekalahan kombo pada 2004 dan 2009.
Pun, bagian menariknya tidak terkait penyematan status "petugas partai" kepada Jokowi oleh PDI-P yang terkesan oleh khalayak umum hendak mereduksi status dan popularitas politiknya sebagai kepala negara waktu itu.
Sisi yang paling menggemaskan di antara keduanya adalah terkait kelihaian Jokowi dalam menerjemahkan spirit Soekarno dalam praksis politiknya sehari-hari, baik ketika menjabat sebagai Walikota Solo, hingga menjadi Presiden RI selama dua periode.
Dan, kecakapan dalam mengaksentuasikan spirit Soekarno selaiknya menjadi kredit politik mahal yang patut diapresiasi.
Turba dan Blusukan: Dua Wajah Dari Keping Uang yang Sama
Benang merah paling tegas di antara sosok Soekarno dan Jokowi adalah karakteristik sosial politiknya untuk turun langsung menemui masyarakat.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259