Oleh: M. Adam Malik, S.Sos.
"KU berlayar di lautan, tidak bertepian. Sesekali disadarkan ombak yang mendatang. Aku seperti hilang puncak arah dan tujuan."Sepenggal lirik lagu yang dipopulerkan Ella di Negeri Jiran itu terasa begitu relevan untuk menggambarkan sebuah sketsa tentang gagalnya sebuah gagasan besar bernama "BERLAYAR" yang digagas oleh seorang nahkoda yang konon disebut-sebut "ulung".
Baca Juga: Bupati Batu Bara Tinjau Program BERLAYAR, Pastikan Pelayanan Publik Semakin Dekat dengan Masyarakat Ironisnya, sejak awal para "masinis kanan" sesungguhnya telah mengetahui bahwa konstruksi dan rancang bangun sampan yang dibuat tidak cukup kokoh untuk mengarungi luasnya lautan. Ketika fondasi sebuah kapal telah rapuh sejak pelabuhan keberangkatan, memaksanya berlayar hanya akan memperbesar risiko karam di tengah perjalanan. Lautan Batu Bara bukanlah perairan yang selalu tenang. Ombaknya kerap datang tanpa aba-aba, sementara arah angin berubah-ubah mengikuti musim. Jika tetap dipaksakan, bukan hanya haluan yang retak, tetapi lambung kapal pun bisa pecah dihantam gelombang.
Kelak, yang mungkin mampu menyelamatkan diri hanyalah sebagian awak kapal yang telah menyiapkan "paspor pelancong" menuju kapal lain. Berbekal handuk merah atau biru untuk sekadar "cuci tangan", mereka meninggalkan kapal yang oleng demi mencari pelabuhan baru. Lautannya boleh berbeda, tetapi tetap saja berada di Sumatera Utara. Program "BERLAYAR" yang dijanjikan sebagai pelayaran menuju kemajuan justru membuat banyak penumpangnya mabuk sepanjang perjalanan.
Hampir satu setengah tahun mengarungi lautan, kapal itu berkali-kali dihantam angin haluan, diterpa angin ekuivalen, hingga disergap angin buritan yang membuat arah pelayaran kehilangan keseimbangan. Wajah-wajah awak kapal mulai muram, semangat perlahan memudar, seolah menjadi korban dari gagalnya sebuah gagasan yang sejak awal dipaksakan berjalan.
Memasuki sepertiga masa pelayaran, sang nahkoda yang disebut "ulung" tampaknya mulai diliputi kegelisahan. Ia seperti kehilangan arah dan tujuan. Di tengah gemerlap lautan, suara-suara yang lama terpendam mulai berubah menjadi tiupan terompet perlawanan. Mereka yang selama ini memilih diam mulai mempertanyakan arah kemudi yang tak kunjung membawa kapal menuju tepian.
Namun, di tengah kondisi kapal yang semakin oleng, sang nahkoda tetap tampil penuh percaya diri. Dengan keyakinan tinggi ia bahkan dikabarkan pernah berkata, "Saya bisa membuat 300 sampan seperti ini." Sebuah pernyataan yang bagi sebagian orang terdengar lebih sebagai bentuk optimisme, tetapi bagi yang lain justru menjadi ironi ketika kapal yang sedang dikemudikan belum mampu dibawa berlabuh dengan selamat.
Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menjadi penilai sesungguhnya. Sejarah selalu mencatat bahwa kepemimpinan tidak diukur dari banyaknya slogan, besarnya janji, atau megahnya narasi. Kepemimpinan dinilai dari arah pelayaran, keselamatan seluruh penumpang, serta kemampuan membawa kapal tiba di tujuan. Semoga lautan Batu Bara kelak dipimpin oleh nahkoda yang bukan sekadar piawai mengangkat jangkar, tetapi juga mampu membaca arah angin, memahami gelombang, dan membawa seluruh awak kapal berlayar menuju tepian harapan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.*(dh)
*)Penulis adalah Sekretaris DPC HNSI Kabupaten Batu Bara