Oleh: Yakub F. Ismail
FENOMENA pemadaman listrik atau sering diistilahkan dengan byar pet belakangan ini ramai diperbincangkan masyarakat.
Baca Juga: Ruang Hidup Terancam Tambang Batu Bara dan Sawit, Orang Rimba Jambi Minta Perlindungan Pemerintah Meski begitu, perlu ditegaskan bahwa byar pet bukan sekadar gangguan teknis yang membuat dapur hingga halaman kota mendadak gelap, mesin produksi tiba-tiba berhenti, atau jaringan internet mendadak terputus.
Sebaliknya, ia merupakan penanda buruk dari sebuah situasi yang muncul akibat tata kelola yang kurang tepat serta antisipasi energi yang terlambat dilakukan.
Gejala ini menjadi alarm serius bahwa Indonesia saat ini sedang berhadapan dengan persoalan ketahanan energi yang belum sepenuhnya mendapat jalan keluar.
Langkah pemadaman listrik bergilir harus dibaca sebagai gejala di permukaan dari endapan problem yang jauh lebih dalam, yaitu tentang rapuhnya ketahanan pasokan energi nasional, minimnya kapasitas pembangkit, distribusi listrik yang kurang memadai, hingga arah kebijakan energi nasional yang masih belum merefleksikan tanda-tanda positif.
Kenyataan yang hari ini dihadapi pemerintah adalah bahwa kebutuhan listrik terus mengalami kenaikan cukup drastis seiring pertumbuhan industri, masifnya digitalisasi, urbanisasi, dan peningkatan konsumsi rumah tangga.
Sementara, di saat bersamaan sistem energi nasional kita masih berada dalam lanskap kebijakan konvensional dengan mengandalkan pendekatan lama untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri yang semakin tinggi.
Alhasil, jurang antara tuntutan kebutuhan dan ketersediaan pasokan menjadi semakin melebar dari waktu ke waktu, sedangkan alternatif yang harus disediakan belum sepenuhnya berjalan baik.
Apa yang kemudian terjadi adalah kemampuan atau daya topang energi yang ada saat ini sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan yang ada.
Pemadaman bergilir lalu muncul sebagai opsi menjaga denyut masyarakat tetap berdegup, meski harus terengah-engah akibat keterbatasan energi nasional.