Oleh: Yakub F. Ismail
DI tengah kemajuan zaman, tantangan perkotaan menjadi semakin kompleks. Menghadapi situasi ini, kepemimpinan daerah tidak lagi cukup dengan mengandalkan orientasi pada pembangunan fisik.
Berkaca pada kota-kota modern di dunia, semua membutuhkan pemimpin yang mampu mengintegrasikan baik mobilitas, tata ruang, pelayanan publik, hingga kualitas hidup warga dalam satu lanskap pembangunan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Bobby Nasution Bela Bupati Deli Serdang soal Pernyataan Pajak dan Jalan Rusak: Ajakan Taat Pajak Berbicara mengenai Jakarta Selatan, sosok Syafrin Liputo merupakan figur penting yang menarik untuk dicermati.
Berbekal pengalaman panjang dalam menakhodai bidang perhubungan dan transportasi, Syafrin dikenal sebagai birokrat yang punya pemahaman mendalam terkait dinamika mobilitas perkotaan.
Syafrin telah lama malang melintang dalam dunia perhubungan dan transportasi mulai dari persoalan kemacetan, keselamatan lalu lintas, integrasi transportasi publik, hingga kebutuhan akan sistem transportasi yang ramah lingkungan.
Berangkat dari pengalaman tersebut, gaya kepemimpinnnya selalu menjadi atensi publik, lantaran tidak sekadar administratif, melainkan berbasis pada pemahaman teknokratis yang kuat.
Dalam banyak kesempatan, Syafrin selalu menunjukkan bahwa membangun sebuah kota yang maju harus dimulai dari visi yang holistik-integratif, salah satunya kemampuan menyediakan sistem transportasi yang aman, nyaman, terjangkau, dan terintegrasi.
Menata transportasi memang merupakan kunci kemajuan tata kota seperti Jakarta yang sekian lama dihantui masalah kemacetan.
Karenanya, jika Jakarta, khususnya Jaksel ingin tampil sebagai model kota modern di Indonesia, maka kepemimpinan yang menempatkan transportasi sebagai urat nadi pembangunan harus menjadi fondasi yang kuat.
Transportasi: Fondasi Kota Modern dan Berkelanjutan
Sebuah kota baru dikatakan benar-benar mencapai level kemajuan terbaik ketika kualitas sistem transportasinya mulai teruji.