Oleh:Udin Suchaini
SELAMA lebih dari tiga dekade terakhir, kemiskinan dan dampak yang menyertainya hampir tidak pernah absen dari diskursus pembangunan Indonesia.
Keduanya hadir dalam ribuan skripsi, tesis, disertasi, jurnal ilmiah, seminar, proyek lembaga donor, hingga program-program pemerintah yang terus berganti nama dan pendekatan.
Baca Juga: Kuliah Tinggi Tapi Sulit Kerja? Ini Penyebab Banyak Lulusan Jadi Pengangguran Terdidik Bahkan, pemenang Nobel bidang Ekonomi menjadikan Indonesia sebagai laboratorium penting dalam karier akademiknya, seperti Abhijit Banerjee, Michael Kremer, dan Benjamin Olken yang dikenal dengan metode Randomized Controlled Trial (RCT).
Setiap tahun, data diperbarui, indikator disempurnakan, metodologi diperdebatkan, rekomendasi kebijakan diproduksi, anggaran deras mengalir tak berhenti.
Namun, persoalan yang dibahas tetap relatif sama: bagaimana mengentaskan kemiskinan.
Sebagai gambaran, BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 23,36 juta orang, menurun 0,49 juta orang terhadap Maret 2025 dan menurun 0,70 juta orang terhadap September 2024.
Namun demikian, jumlah tersebut masih setara dengan jumlah penduduk Taiwan dan Syria.
Besaran angka statistik yang menjadi dasar bahwa persoalan kemiskinan belum dapat dianggap selesai.
Sementara, anak-anak dari jutaan keluarga miskin ini menghadapi risiko kehilangan potensi kognitif, produktivitas, dan kesehatan jangka panjang akibat kekurangan makan, bukan lagi sekedar kurang gizi pada usia sekolah.
Bertahan atau Mencari Lompatan Strategis?
Tentu tidak ada yang salah dengan penelitian. Pengetahuan adalah fondasi kebijakan publik yang baik.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259