Oleh:Abdul Khalid
ADALAH fakta yang tak terbantahkan bahwa setiap perubahan besar di republik ini tidak pernah bisa dilepaskan dari tangan dan suara mahasiswa.
Dari kobaran semangat pergerakan nasional di awal abad ke-20, hingga gelombang reformasi 1998 yang memorak-porandakan Orde Baru, api perlawanan kaum terpelajar selalu menjadi katalis sejarah bangsa ini.
Baca Juga: Wabup Syahdian Purba Sambut Kepulangan 147 Jamaah Haji Labusel, Seluruhnya Kembali Sehat Maka, ketika pada Jumat 12 Juni 2026, ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Universitas Indonesia bersama berbagai elemen gerakan mahasiswa—dari BEM IPB, UNJ Melawan, Front Mahasiswa Nasional, Serikat Mahasiswa Progresif UI, hingga belasan BEM kampus lainnya—turun ke jalan membawa tuntutan bertajuk "Menuju Indonesia Bangkrut", maka ingatan kita seharusnya segera melayang ke lorong panjang sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia.
Suatu aksi massa yang tidak berlangsung mulus. Massa yang bermaksud memusatkan demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, diadang oleh barisan TNI dan Kepolisian di depan Gedung Thamrin Nine.
Sebagian massa diarahkan dan terpaksa bergeser ke kawasan DPR/MPR.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan, menutup aksi dengan sebuah pernyataan yang penuh tekad sekaligus peringatan: "Ini adalah langkah pertama. Mari kita kumpulkan energi."
Lima tuntutan yang dibawa pun bukan tuntutan sembarangan: penghentian program makan bergizi gratis yang dinilai menyedot APBN tanpa arah, pembubaran koperasi desa Merah Putih yang dianggap sarat kepentingan politik, penghentian pemborosan negara, penurunan harga bahan pokok dan BBM, serta penghentian militerisasi sipil.
Sebuah agenda yang cukup substansial.
Antara Siklus Gerakan dan Godaan Algoritma
Namun di sinilah pertanyaan sesungguhnya mulai mengusik.
Apakah aksi-aksi mahasiswa hari ini—termasuk yang kita saksikan tadi pagi di jantung Jakarta—telah melewati apa yang saya sebut sebagai siklus gerakan: diskusi, refleksi, lalu aksi?