Oleh:Raman Krisna, Anak Kampung Batubara
JURNALIS sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Sebutan itu bukan sekadar penghormatan, melainkan pengakuan atas peran penting pers dalam mengawasi jalannya pemerintahan, menyampaikan informasi kepada masyarakat, dan menjadi penghubung antara rakyat dengan para pemegang kekuasaan.
Baca Juga: Nabi Ibrahim Mengajarkan Pemimpin untuk Mendoakan Rakyat, Bukan Menindas Dalam negara demokrasi, masyarakat berhak mengetahui apa yang dilakukan pemerintah, bagaimana uang negara digunakan, dan apakah kebijakan yang dibuat benar-benar berpihak kepada rakyat. Di sinilah peran jurnalis dibutuhkan. Melalui kerja jurnalistik, berbagai informasi dapat disampaikan kepada publik secara terbuka dan bertanggung jawab.
Tugas jurnalis sebenarnya sederhana, tetapi sangat penting. Mereka mencari fakta, melakukan verifikasi, mewawancarai narasumber, lalu menyajikan informasi yang benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, seorang jurnalis tidak boleh menulis berdasarkan dugaan, fitnah, atau kepentingan pribadi.
Banyak tokoh pers yang telah menunjukkan bagaimana profesi ini dijalankan dengan penuh pengabdian. Nama seperti Roehana Koeddoes, Rosihan Anwar, dan Burhanuddin Mohammad Diah menjadi bagian dari sejarah pers Indonesia. Mereka menggunakan pena dan tulisan untuk memperjuangkan kepentingan bangsa serta menyampaikan suara masyarakat.
Namun, profesi yang mulia ini juga menghadapi tantangan. Tidak dapat dipungkiri, ada sebagian oknum yang mengaku wartawan tetapi tidak memahami tugas dan tanggung jawab jurnalistik. Mereka lebih sibuk mencari keuntungan pribadi daripada mencari kebenaran.
Perilaku seperti meminta uang kepada narasumber, mengancam dengan pemberitaan, atau membuat berita tanpa verifikasi merupakan tindakan yang bertentangan dengan Kode Etik Jurnalistik. Perbuatan seperti itu bukan hanya merugikan pihak lain, tetapi juga merusak citra profesi wartawan secara keseluruhan.
Akibat ulah segelintir oknum, muncul pandangan negatif terhadap wartawan. Padahal, masih banyak jurnalis yang bekerja siang dan malam, turun ke lapangan, menghadapi berbagai risiko, dan tetap berusaha menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.
Karena itu, integritas menjadi modal utama seorang jurnalis. Seorang wartawan harus mampu menolak segala bentuk intervensi, tekanan, maupun iming-iming yang dapat memengaruhi independensinya. Ketika seorang jurnalis kehilangan integritas, maka kepercayaan publik terhadap karya jurnalistik juga akan hilang.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa kritik yang disampaikan pers bukanlah bentuk permusuhan. Kritik yang berdasarkan fakta justru merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial. Dengan adanya pengawasan dari pers, penyelenggara negara dapat bekerja lebih transparan dan bertanggung jawab.
Di era media sosial saat ini, tugas jurnalis semakin berat. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, termasuk informasi yang belum tentu benar. Oleh sebab itu, kehadiran jurnalis profesional menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan tidak menyesatkan.