Oleh: Muhammad Yazid Al-Faizi
SERING kita bayangkan partai politik sebagai benteng terakhir gagasan besar bangsa.
Gedung-gedung mewah dengan papan nama partai seharusnya menjadi tempat para pemikir merumuskan masa depan negara, menjaga moral, dan menjadi filter integritas nasional.
Baca Juga: Said Iqbal Berpeluang Masuk Kabinet Prabowo, Istana: Masih Dalam Pembahasan Sayangnya, gambaran ideal itu ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan.
Begitu musim pemilu tiba, realitas justru berputar 180 derajat. Alih-alih perdebatan gagasan, kita hanya dipaksa menjadi penonton drama absurd.
Politisi berubah warna layaknya bunglon, melompat dari satu perahu ke perahu lain hanya dalam hitungan malam.
Akibatnya, partai politik yang seharusnya menjadi penjaga gawang nilai demokrasi, kini justru berubah fungsi menjadi sekadar penyalur bantuan sosial.
Fenomena ini membuat partai-partai persis seperti kerupuk kulit yang dipajang di etalase kaca yang megah, ia mengembang besar, memikat mata, dan tampak begitu kokoh di balik cahaya lampu yang redup.
Namun, saat kita masuk ke dalam toko dan mencoba menggigitnya, kerupuk itu renyah sesaat, hancur menjadi bubuk, dan ternyata kosong di dalam.
Celakanya, ideologi yang mereka klaim hanyalah pembungkus plastik yang sekadar memberi label, padahal isinya hampa.
Narasi nasionalis atau agamis yang mereka usung hanyalah bumbu penyedap yang ditaburkan agar tampak menggugah selera.
Bedanya, kerupuk di toko hanya merugikan uang kita beberapa ribu rupiah, sementara "kerupuk" di Senayan telah menelan anggaran miliaran rupiah hanya untuk membiayai kehampaan.