Oleh: Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn.
SETELAH Reformasi Gagal, Kita Harus Pilih: Ribut di Bundaran atau Menang di Perang Algoritma
Toa Masjid Kampus sudah berbunyi selama 26 tahun.
Baca Juga: Hari Tri Suci Waisak 2026, Rico Waas Ajak Warga Medan Perkuat Toleransi dan Sebarkan Cahaya Kebaikan Hasilnya? Kita menang dalam kebebasan, tetapi kalah pada kedaulatan.
Mahasiswa bebas berteriak "turunkan Presiden" di Bundaran UGM. Tapi 93% data 280 juta WNI lewat kabel Singapura.
Bebas demo, tetapi tidak bebas dari algoritma TikTok yang mendikte anak-anak SD. Hal ini bukan demokrasi. Tapi ilusi kemerdekaan di dalam kandang digital asing.
Musuh hari ini tidak gunakan laras panjang. Musuh saat ini pakai machine learning. Musuh tidak menduduki Istana.
Musuh duduki FYP, duduki server, duduki otak generasi muda lewat dopamine loop. Ketua BEM teriak ke arah Monas, padahal peluru kendali algoritma ditembakkan dari Palo Alto dan Beijing.
Salah sasaran 26 tahun. Itulah dosa Toa Masjid Kampus pasca-Reformasi.
Data adalah minyak baru. Dan kita adalah Nigeria-nya era digital. Punya cadangan data terbesar se-ASEAN, tetapi kilangnya di luar negeri.
BPJS bocor, Dukcapil dijual, transaksi Gojek-Grab dianalisis di AS.
Negara tidak bisa apa-apa karena setiap mau bertindak, Toa Masjid Kampus berteriak "otoriter!", "HAM!", "langgar demokrasi!". Hasilnya? Kita puasa data, asing pesta data paham ya.