Oleh:Dony Karno
DI negeri yang begitu sering berbicara tentang persatuan, ada satu ironi yang diam-diam tumbuh seperti lumut di dinding kebangsaan kita, sebagian orang masih merasa berhak menghina manusia lain hanya karena warna kulitnya, rambutnya, atau asal-usulnya.
Dan setiap kali saya melihat Natalius Pigai dihantam hinaan rasis, saya selalu sampai pada pertanyaan yang sama: "Pigai, hatimu terbuat dari apa?"
Baca Juga: IHSG Terus Melemah! Ini Penyebab Utama Turunnya Indeks Saham BEI Pekan Ini Sebab tidak mudah menjadi manusia yang terus-menerus dihujani kebencian, lalu tetap berdiri tanpa kehilangan akal sehat dan kemanusiaannya.
idak mudah hidup di ruang publik ketika orang tidak lagi menyerang pikiranmu, melainkan eksistensimu sebagai manusia.
Rasisme adalah bentuk penghinaan paling purba. Ia tidak peduli siapa dirimu, apa pencapaianmu, seberapa keras perjuanganmu.
Ia hanya ingin mengatakan satu hal yang kejam, "Kau tidak layak dihormati karena kau terlahir berbeda."
Dan betapa menyedihkan, kalimat semacam itu masih hidup di republik yang katanya berdiri di atas kemanusiaan.
Tetapi ada sesuatu yang menarik dari Pigai. Semakin ia dihina, semakin terlihat bahwa yang rapuh bukan dirinya, melainkan mereka yang membencinya.
Karena manusia yang kuat secara moral tidak membutuhkan penghinaan untuk merasa besar.
Hanya mereka yang memiliki jiwa kecil, yang sibuk merendahkan orang lain demi menutupi kekosongan dalam dirinya sendiri.
Orang-orang mungkin berpikir bahwa kata-kata kasar di media sosial dapat menjatuhkan Pigai.