Oleh:Muhammad Sarmuji.
DUA hari kemarin banyak pertanyaan pewarta kepada saya, tapi hanya satu yang saya jawab yaitu berkaitan dengan lagu yang lagi sangat viral; MBG, Mas Bahlil Ganteng.
Nada pertanyaan wartawan setengah ragu, setengahnya lagi ambigu. Apakah Golkar tidak masalah dengan lagu tersebut?
Baca Juga: Catatan di Balik Menguatnya Peran Negara Saya yang sudah mendengar lirik lagu tersebut tanpa ragu menjawab itu bagian dari kreatifitas netizen berapresiasi atas kerja keras Pak Bahlil.
Lagunya sendiri cukup cute dan menghibur.
Belakangan saya baru tahu mengapa wartawan agak ambigu dalam mengajukan pertanyaan. Ada yang menganggap lagu itu bagian dari body shaming dan terkesan bullying.
Saya menjawab pertanyaan tersebut saat jeda istirahat prosesi haji sambil lesehan waktu makan.
Menjawab dengan dua tiga kalimat bukan soalan yang berat untuk saya yang memang punya tradisi tulis yang cukup terlatih.
Dalam kondisi jeda ibadah, tidak ada pretensi politik atau keluar dari konteks terhadap lagu yang sangat disukai anak-anak itu.
Dalam pertemuan akbar manusia seluruh dunia, pikiran saya terkonstruksikan semua manusia sama di mata Tuhannya, yang membedakannya adalah taqwa dan amal kebaikan saja.
Mas Bahlil Ganteng bagi saya bukan body shaming dan bukan sarkastis.
Saya yang mengenal dengan baik budaya dan sastra jawa dengan "sanepan", satu pemaknaan yang berkebalikan dari makna leksikal, alarm saya pasti menyala jika ada unsur sarkastis.