Oleh:Yudi Latif
SAUDARAKU, orang Indonesia tumbuh dengan ajaran lembut: menghormati yang tua, ringan tangan pada tetangga, ramah pada tamu asing.
Kita pandai tersenyum, menjaga perasaan, dan menolong sesama.
Baca Juga: Dasco Diduga Ucapkan 'Asal Jangan Teriak Hidup Jokowi' di Sidang DPR, Begini Respons Jokowi Tetapi ada yang ganjil. Kelembutan itu sering berhenti di pagar rumah dan lingkar kelompok sendiri.
Begitu memasuki ruang publik, wajah kita berubah.
Di jalan orang saling serobot; dalam politik saling jegal; hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Hak publik dirampas, identitas dapat berubah jadi korek api.
Kita hangat dalam hubungan personal, tetapi dingin terhadap kepentingan bersama.
Wajah mendua ini mungkin sebagian merupakan residu kolonialisme: ruang publik dahulu berada di bawah otoritas asing, sementara rakyat pribumi bertahan dalam orbit komunitasnya sendiri, yang kerap berseberangan dengan negara.
Akibatnya, loyalitas kepada kelompok terasa lebih nyata daripada tanggung jawab terhadap ruang publik bersama.
Karena itu kita lebih banyak dididik menjadi "orang baik" dalam komunitas, bukan menjadi warga negara dewasa.
Kesopanan kita komunal, belum sepenuhnya sipil. Kita tahu menjaga perasaan orang yang dikenal, tetapi belum terbiasa menghormati hak orang secara impersonal.