Oleh:Fathul Wahid
KATANYA, negeri ini sudah reformasi.
Ibarat sebuah bus: nama trayek diperbarui, nomor bus dicat ulang, slogan ditempel besar-besar di badan kendaraan.
Baca Juga: Ramai Kritik MBG, Wakil Kepala BGN Beri Respons Tegas Tetapi bus itu tetap berjalan tertatih.
Catnya memang baru.Kursinya lebih empuk.Ada pendingin udara.Ada koneksi internet.Ada aplikasi pengaduan.
Tetapi remnya tetap blong, dan setirnya selalu diperebutkan.
Setiap lima tahun, kita diminta memilih sopir baru.
Sopir lama turun sambil melambaikan tangan, lalu pindah kursi menjadi komisaris perusahaan transportasi.
Sopir baru, yang kadang kroni sopir lama, naik membawa slogan perubahan.
Pidatonya penuh kata-kata segar: transformasi, hilirisasi, akselerasi, gentengisasi, keadilan sosial, dan sesekali berteriak, "Demi rakyat kecil!"
Rakyat kecil pun terharu. Meski tetap kecil.
Bus melaju lagi.Lubang jalannya masih sama.Macetnya masih sama.Premannya kadang orang yang sama,hanya warna jaketnya berbeda.