Oleh:Natalius Pigai.
TIDAK ada yang dapat disangkal bahwa hari ini kita berada dalam kungkungan teknologi informasi. Pengguna internet di Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari 7 jam per hari (laporan We Are Social & Hootsuite Digital 2024).
Sedangkan Data Kemenkominfo (2022/2023) menunjukkan rata-rata penggunaan mencapai 8 jam 36 menit dalam sehari, dengan 37,5% dari 24 jam digunakan untuk berinternet. Rata-rata Global, waktu yang dihabiskan untuk media sosial meningkat, dengan 2 jam 31 menit per hari, sementara di Indonesia mencapai 3 jam 11 menit (data per Maret 2024).
Baca Juga: Wujudkan Generasi Emas, DWP Sumut Dorong Ibu Jadi Kunci Penguatan Literasi Anak Coba kita bayangkan; dengan angka harapan hidup orang Indonesia 74 tahun dikurangi 16 tahun sesuai Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 tahun 2026 tentang pembatasan pengguna internet maka orang Indonesia yang punya kesempatan menggunakan internet adalah sepanjang 58 tahun.
Katakan seorang pengguna internet menghabiskan 1.080 jam per tahun atau 62.640 jam seumur hidup. Artinya, kita sudah berada dalam genggaman informasi teknologi bahkan berisiko membuat pola pikir menjadi dangkal dan terbiasa berpikir cepat tanpa proses matang.
Perubahan teknologi informasi bergerak seperti meteor bahkan juggernaut yang melintasi jalan bebas hambatan telah diramal banyak ahli, pemikir dan futurology terkemuka.
Ilmuwan komputer dan futuris asal Amerika Serikat, Kurzweil dikenal karena prediksi-prediksinya yang sangat berani tentang masa depan kecerdasan buatan (AI) dan bioteknologi.
Kurzweil merupakan tokoh utama dalam gerakan transhumanisme dan populer dengan konsep Singularitas, yaitu titik waktu di mana kecerdasan mesin akan melampaui kecerdasan manusia dan keduanya akan bersatu melalui teknologi.
Mau tak mau harus menerima bahwa saat ini titik waktu di mana manusia sedang bertemu teknologi buatan. Manusia menciptakan teknologi dan sebaliknya telah memberi manfaat positif sekaligus sedang mengancam kehidupan.
Perbandingan jarak intim antara manusia dengan keluarga inti dan teknologi menunjukkan pergeseran perilaku yang signifikan, di mana teknologi sering kali menciptakan 'jarak fisik yang dekat namun jarak emosional yang jauh' (dekat di gawai, jauh di hati).
Sementara keluarga inti beroperasi dalam zona intim fisik yang sebenarnya (0-46 cm), teknologi menciptakan ruang 'pseudo-intim' yang membuat manusia hanya merasa dekat secara emosional karena terpisah jarak fisik.
George Orwell tahun 1984 meramalkan masa depan ditandai oleh totalitarianisme, pengawasan massal, manipulasi informasi, dan erosi kebenaran.