Oleh:Bambang Soesatyo.
DI tengah perubahan tatanan global yang mengeskalasi ketidakpastian, patutlah untuk disyukuri karena urat nadi pembangunan nasional masih dan terus berdetak.
Realisasi belasan proyek hilirisasi fase dua pada April 2026 menjadi bukti bahwa pembangunan nasional tidak mengalami stagnasi, saat arah perekonomian dunia terlihat tak menentu.
Baca Juga: Bobby Nasution Hadiri Pengukuhan Kepala LPS I, Tekankan Stabilitas Keuangan Sumut Demi kebaikan bersama, segenap elemen bangsa diajak untuk terus menjaga dan merawat konsistensi proses pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Kendati dihadapkan pada fakta polarisasi atau keterbelahan masyarakat yang dirasakan semakin tajam akhir-akhir ini, semua komunitas hendaknya tidak lupa untuk selalu fokus dan peduli pada urgensi pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Sebab, selain tantangan meningkatkan kualitas demokrasi dan kualitas penegakan hukum, masalah lain yang tak kalah pentingnya untuk terus dibahas adalah mencegah stagnasi pembangunan di tengah berbagai keterbatasan akibat defisit anggaran, menurunnya penerimaan negara, gelembung utang luar negeri dan hingga gelembung angka pengangguran.
Belum lagi potensi tekanan pada biaya produksi akibat faktor eksternal, seperti fluktuasi nilai tukar valuta dan fluktuasi harga energi.
Biaya produksi yang fluktuatif memengaruhi kinerja atau produktivitas dunia usaha, termasuk ongkos distribusi.
Ketika biaya produksi dan distribusi naik, dampaknya tak hanya pada kenaikan harga barang dan jasa, melainkan juga pada asek ketenagakerjaan.
Dalam konteks Indonesia terkini, ketika harga barang dan jasa naik akibat biaya produksi yang makin mahal, permintaan pasar akan semakin melemah, terlebih di tengah menurunnya daya beli konsumen saat ini. Daya beli lemah akibat faktor meningkatnya pengangguran.
Di tengah kecenderungan seperti itu, salah satu pilihannya adalah menurunkan volume produksi dengan konsekuensi ikutannya adalah mengurangi pekerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
Memang sebagai ekses dari faktor kekacauan eksternal maupun internal, dinamika kehidupan saat ini menyebabkan hampir semua komunitas merasa tidak nyaman.