Oleh:M Nur Rianto Al Arif.
SETIAP tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional, yaitu sebuah momentum yang pada pandangan pertama tampak sederhana seperti hari libur atau demonstrasi.
Namun di balik simbol-simbol itu tersimpan sejarah panjang, konflik sosial, dan perjuangan ekonomi yang masih bergulir hingga hari ini.
Baca Juga: Iuran BPJS Kesehatan Bakal Naik? Ini Penjelasan Pemerintah Hari Buruh bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cermin dari relasi antara manusia, kerja, dan sistem ekonomi yang terus berubah.
Di era modern yang ditandai oleh globalisasi, digitalisasi, dan ketidakpastian ekonomi, makna Hari Buruh justru semakin kompleks.
Saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang jam kerja delapan jam atau keselamatan di pabrik, tetapi juga tentang algoritma, gig economy, inflasi, dan ketimpangan global.
Pertanyaannya kemudian ialah bagaimana kita memaknai Hari Buruh di tengah lanskap ekonomi yang semakin dinamis dan sering kali tidak pasti?
Makna Hari Buruh tidak bisa dilepaskan dari sejarahnya. Peringatan ini lahir dari kondisi kerja yang eksploitatif pada abad ke-19, ketika buruh dipaksa bekerja hingga 14–16 jam sehari tanpa perlindungan yang memadai.
Puncak perlawanan terjadi dalam peristiwa Haymarket di Chicago tahun 1886, yang kemudian menjadi simbol perjuangan global pekerja. Dari sanalah tuntutan "delapan jam kerja" menjadi standar universal.
Namun, jika kita melihat kondisi hari ini, standar tersebut memang telah tercapai di banyak negara. Jam kerja telah diatur, hak cuti diakui, dan keselamatan kerja menjadi bagian dari regulasi. Tapi apakah itu berarti perjuangan buruh telah selesai?
Hari ini, tantangan buruh bukan lagi sekadar durasi kerja, tetapi kualitas hidup dari pekerjaan itu sendiri. Dalam banyak kasus, seseorang bisa bekerja penuh waktu namun tetap hidup dalam kondisi ekonomi yang rapuh.
Fenomena ini dikenal sebagai "working poor" atau pekerja yang tetap miskin meskipun memiliki pekerjaan.