Oleh krisnaSudah terlalu lama pemekaran daerah dijual sebagai janji kesejahteraan. Narasinya indah, mudah dipercaya, dan terus diulang sejak era Reformasi 1998.
Namun ketika angka-angka dibuka, yang tampak bukan kemajuan—melainkan ketergantungan yang terus dipelihara.Fakta yang Terlalu Jelas untuk Diabaikan
Baca Juga: Ajukan Masukan RUU Hak Cipta, Dewan Pers Ungkap Poin Penting Perlindungan Karya Jurnalistik Mari bicara data, bukan retorika.Di Kabupaten Labuhanbatu Utara:
Pendapatan: ± Rp1,09 triliunPAD: ± Rp57 miliar (sekitar 5%)
Transfer pusat: ± Rp977 miliar (hampir 90%)Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan:
Pendapatan: ± Rp974 miliar
PAD: ± Rp75 miliar (sekitar 7–8%)
Transfer pusat: ± Rp830 miliar (±85%)Dan di Kabupaten Batu Bara—yang bahkan memiliki potensi industri:
Pendapatan: ± Rp1,5–1,6 triliunPAD: ± Rp120–150 miliar (masih di bawah 10%)
Baca Juga: Belajar Investasi Sejak Dini, Siswa SMA Labschool Unesa 1 Dibekali Literasi Pasar Modal oleh Praktisi Sekuritas Transfer pusat: ± Rp1,2 triliun (sekitar 80%)Ini bukan anomali. Ini pola.
Setiap Rp100 yang dibelanjakan daerah, hanya Rp5–Rp10 yang benar-benar dihasilkan sendiri.Sisanya? Ditopang oleh pusat.Kenyataan yang Sulit Disangkal