Oleh: Yakub F. Ismail
HARGA bahan bakar minyak (BBM) kembali melonjak drastis, utamanya BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53).
Kenaikan harga BBM Pertamina secara otomatis diikuti dengan operator penjualan BBM lainnya yang mengambil langsung pasokan minyak dari Pertamina.
Baca Juga: Insiden Ricuh Halal Bi Halal KAMMI di Kantor Gubernur Sumut, Ini Tanggapan Bobby Nasution Apa yang menarik dari fenomena kenaikan harga BBM nonsubsidi ini tentu sudah banyak yang mengetahuinya: dampaknya terhadap sosial dan ekonomi.
Masyarakat sudah hampir paham bahwa BBM selalu menjadi isu sensitif yang terus memantik perdebatan publik.
Yang menarik, dari pihak pemerintah umumnya sudah mempunyai dalih tersendiri ketika hendak mengubah harga BBM, yakni sebuah langkah penyesuaian harga akibat perubahan harga minyak dunia dan pengaruh faktor eksternal lainnya.
Dan, alasan tersebut pada level tertentu dapat dimaklumi menimbang kondisi geopolitik global yang semakin memanas, utamanya dipicu perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel di Timur Tengah.
Akibat perang tersebut membuat krisis energi global menjadi tak terhindarkan, karena hampir 20 persen pasokan minyak dunia harus melewati Selat Hormuz yang saat ini berada di bawah kendali Iran yang mengalami penutupan.
Terganggunya distribusi minyak dunia membawa dampak nyata bagi tekanan global, seperti fluktuasi harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar, hingga beban subsidi yang kian membengkak.
Di atas kertas, kebijakan penyesuaian harga yang dilakukan pemerintah tentu harus dilihat sebagai upaya menjaga kesehatan fiskal negara.
Namun demikian, di balik rasionalitas tersebut, dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan tidak bisa dianggap sederhana.
Dari pengalaman yang lalu-lalu, kenaikan BBM selalu beriringan dengan kenaikan pada biaya hidup masyarakat. Hal yang senantiasa menjadi pemicu di balik ketidakstabilan sosial.