Oleh: Rahadi Wangsapermana
DALAM lanskap peperangan modern, superioritas teknologi tidak lagi menjadi jaminan mutlak kemenangan.
Konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah justru memperlihatkan paradoks: sistem pertahanan udara paling canggih di dunia sekalipun memiliki kerentanan mendasar ketika dihadapkan pada strategi perang asimetris.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.885 per Dolar AS Saat Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Alih-alih menghadapi kekuatan militer Barat secara konvensional, Iran memilih jalur berbeda dan memanfaatkan celah struktural dalam sistem pertahanan berbasis radar milik Israel dan Amerika Serikat.
Pendekatan ini bukan sekadar taktik militer, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang dirancang untuk menguras, melemahkan, dan menciptakan tekanan berkelanjutan.
Radar: "Mata Utama" yang Rentan Dilumpuhkan
Dalam arsitektur pertahanan udara modern, radar berfungsi sebagai pusat deteksi dan peringatan dini.
Sistem seperti AN/TPY-2 , dikembangkan oleh Raytheon Technologies dan menjadi "mata utama" dalam sistem pertahanan rudal AS, yang menjadi tulang punggung sistem THAAD dirancang untuk mendeteksi ancaman balistik dalam jarak jauh.
Namun, menurut analis militer dari RAND Corporation, Michael J. Mazarr, keunggulan tersebut sekaligus menjadi titik lemah.
"Radar adalah komponen paling vital sekaligus paling rentan. Ketika sistem ini terganggu, maka seluruh rantai pertahanan kehilangan kemampuan prediksi dan respons awal," ujarnya dalam analisisnya.
Laporan terbaru dari kawasan Timur Tengah menunjukkan bahwa beberapa fasilitas radar mengalami kerusakan akibat serangan presisi.
Dampaknya tidak hanya bersifat taktis, tetapi juga strategis: menciptakan blind spot yang membuka celah bagi serangan lanjutan.