Oleh:Natalius Pigai.
"KALAU Anda jujur kepada saya, saya juga boleh dong jujur dan apa adanya". Kata-kata yang sering diucapkan oleh Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan termasuk dalam wawancara atau diskusi meja bundar dengan beberapa tokoh di Hambalang beberapa hari lalu.Inilah kata-kata presiden yang menempatkan dirinya sebagai seorang egaliter, mengangkat derajat demokrasi dan Hak Asasi Manusia.
Beliau berkomunikasi dengan bahasa yang humanis, egaliter, demokratis, transparan, akuntabel, ilmiah dan dengan bahasa yang terkontrol sebagai pemimpin dan negarawan.
Baca Juga: Prabowo Ungkap Alasan Sering Lakukan Kunjungan Kenegaraan ke Luar Negeri: Untuk Ciptakan Lapangan Kerja di Indonesia Berbagai kesempatan saya menyaksikan ketika seseorang mengajukan pertanyaan kepada pemimpin bangsa, seringkali menyatakan saya mewakili rakyat.
Rakyat yang mana? Meski yang bertanya itu seringkali anak seorang mantan menteri yang yang hidup dalam lingkaran elit Indonesia yang tidak pernah turun hidup menderita bersama rakyat, tidak pernah merasakan situasi riil di lapangan termasuk tidak pernah melihat hasil dari hampir Rp 1.300 triliun APBN untuk berbagai program kerakyatan.
Jujur saja, hari ini rakyat sudah merasakan betapa takhta untuk rakyat dan harta untuk rakyat. Terbukti dalam 15 tahun terakhir, Indeks Gini Ratio mencapai 0,363 terbaik sepanjang 15 tahun terakhir.
Artinya sedang terjadi pemerataan daya beli masyarakat. Oke, intinya jangan kita menggunakan perasaan pribadi lalu mengklaim dan mengatakan bawah saya bertanya mewakili perasaan publik! Kita tidak pernah tahu mewakili publik yang mana?
Bukankah Presiden dipilih oleh 96.214.691 pemilih? Bukankah 50% menteri dan wakil menteri dalam kabinet ini adalah tokoh-tokoh pergerakan Indonesia yang berjuang bertahun-tahun bersama rakyat?
Bukankah penasehat pemerintah termasuk Kementerian HAM RI adalah tokoh-tokoh penggawa dan prominent Republik Indonesia? Bukankah para tenaga ahli di pemerintahan saat ini adalah tokoh-tokoh pergerakan?
Sementara itu, mereka yang nyinyir saya amati baru belajar menjadi aktivis; termasuk ada yang baru menjadi pensiunan eselon 1 PNS di pemerintah orde baru dan reformasi dll, serta mereka yang ada di pihak kalah pemilu.
Saya amati pula, pertanyaan yang disampaikan kepada presiden yang seharusnya tentang visi dan misi mau dibawa kemana arah negara ini, justru malah bertanya tentang kerja-kerja teknis yang seharusnya bertanya kepada menteri dan wakil menteri terkait.
Tapi, oke lah. Itulah jiwa besar seorang Presiden Prabowo yang sangat sabar meladeni semua pertanyaan tersebut.