Oleh:Natalius Pigai
POSISI Kita di Tengah Turbulensi Geopolitik Dunia.
Sebelum saya membahas lebih lanjut, ijinkan Saya disclaimer terlebih dahulu bahwa tidak ada kejahatan yang bisa dikompromikan, karena kejahatan adalah musuh umat manusia (hostis humanis generis).
Baca Juga: Sawit: Sumber Energi Nasional yang Kini Jadi 'Tameng' di Tengah Krisis Energi Global Pada berbagai kesempatan Presiden Prabowo, seorang intelektual dan negarawan Indonesia menyampaikan kepada kita semua tentang konsep state craft bahwa fakta hari ini dunia bergerak di atas 3 landasan ideologi.
Semua negara di dunia saat ini telah berada dalam ruang masing-masing. Saya beruntung pernah mendengar langsung kuliah dari pemikir realisme dunia saat ini John Mearsheimer. Tiga landasan ideologi tersebut yaitu :
1). Kelompok Sosialisme (Rusia, China, Kuba, Vietnam, Venezuela dkk).
2). Kelompok Kapitalisme (Amerika Serikat, Israel, negara-negara Eropa, beberapa negara Timur Tengah dll).
3). Realisme.
Kita tidak berada di dalam ruang hampa, tetapi turbulensi hebat dalam geopolitik dunia hari ini memaksa harus memilih dan menentukan jalan pilihan untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dan juga menghadirkan bangsa Palestina yang merdeka, adil dan makmur.
Kebetulan jalan kita ada di Realisme (Thucydides, Cautilya dan Mearsheimer) yang sering dikutip Presiden Prabowo.
Pertama, pemikir utama Realisme adalah Thucydides. Pernyataan Thucydides yang paling terkenal terdapat dalam "Melian Dialogue" (Dialog Melos), di mana utusan Athena berkata kepada penduduk pulau kecil Melos:
"Yang kuat berbuat apa yang mereka mampu, dan yang lemah menderita apa yang harus mereka derita." (The strong do what they can, and the weak suffer what they must).