Oleh:Bambang Soesatyo.
PARA petinggi dan orang-orang dekat Presiden Prabowo Subianto patut mewaspadai upaya nyata di ruang publik yang bertujuan merusak atau menghancurkan karakter dan kredibilitas Presiden serta kabinet Merah Putih.
Upaya nyata itu berwujud ancaman, teror serta respons intimidatif kepada pemerhati maupun individu yang menyuarakan kritik. Teror dan ancaman itu ingin membangun kesan dan membentuk persepsi publik bahwa Presiden Prabowo dan anggota kabinet anti kritik.
Baca Juga: Daftar Sekarang! Kemnaker Hadirkan Pelatihan Vokasi Nasional 2026, Gratis untuk 70.000 Peserta Sejumlah figur, termasuk influencer, yang mengenal dekat dan memahami karakter serta kepribadian Presiden Prabowo sangat yakin kalau pelaku ancaman, teror serta respons intimidatif kepada pemerhati maupun individu yang menyuarakan kritik, berada di luar kendali Presiden.
Sebab, sejatinya, Prabowo dikenal sebagai pribadi yang tidak segan bertanya, mendengarkan penjelasan, dan kemudian berdebat.
Selain itu, sudah menjadi fakta yang bisa ditelusuri dan disaksikan bahwa Prabowo adalah sosok yang sangat terbuka dan tak segan menanggapi kritik yang dianggapnya perlu untuk direspons.
Contoh kasusnya adalah pengakuan terbuka Presiden bahwa dia tahu kalau sejumlah penggiat media sosial sering mengkritik dan mengecamnya dengan beberapa ungkapan.
Hingga hari-hari ini, walau ada indikasi mobilisasi kritik dan kecaman kepada Presiden melalui platform media sosial terus mengalir di ruang publik.
Namun tidak ada upaya pembatasan atau larangan. Semua dibiarkan mengalir di ruang publik sejauh kritik tersebut masih dalam koridor adab.
Fakta ini menjadi bukti kalau Presiden tak pernah berupaya membungkam pandangan, pendapat dan aspirasi bernada kritis dari masyarakat, karena presiden sejatinya terbuka menerima kritik.
Bahkan, belum lama ini, Presiden mengundang sejumlah tokoh atau figur yang secara terbuka sering menyuarakan kecaman dan kritik, baik kepada Presiden sendiri maupun kritik kepada anggota kabinet.
Dalam suasana dialogis, presiden mendengarkan aspirasi para tamunya, dan sebaliknya presiden juga menjelaskan arah kebijakan pemerintahannya.