Oleh: Michael F. Umbas.
TIDAK semua pertemuan tingkat tinggi dunia melahirkan sejarah. Banyak di antaranya yang berlalu sekadar menjadi ajang foto bersama dan bertukar senyum diplomatik.
Namun, kali ini, meski dibungkus dengan gaya showmanship khas Donald Trump, alhasil melahirkan arah strategis baru: peta pengaruh global tengah ditata ulang di mana Indonesia tidak lagi sekadar duduk di kursi penonton.
Baca Juga: Tarif Dagang AS Dibatalkan Mahkamah Agung, Prabowo Angkat Suara KTT perdana Board of Peace (BoP) untuk Gaza yang digelar di Washington pada 19 Februari 2026 benar-benar menjadi penanda babak baru.
Inisiatif yang sebelumnya diluncurkan di sela-sela WEF Davos pada 22 Januari lalu terus bermetamorfosa menunjukkan eksistensinya. Di Washington, momen itu terpampang jelas di mana Indonesia diundang duduk di meja utama.
Sebuah penegasan lantas keluar dari mulut Presiden Trump lewat kalimat yang kini ramai dikutip berbagai media internasional: "A man that I really like a lot... he is definitely tough, I don't want to fight him, President Prabowo of Indonesia."
Di telinga awam, ungkapan "Tough Guy" mungkin terdengar seperti candaan khas Trump yang personal dan teatrikal. Namun, dalam gramatika diplomasi dan politik kekuatan (power politics), candaan pemimpin negara adidaya sering kali merupakan kode pengakuan.
Itu adalah sinyal bahwa Presiden Prabowo Subianto, dan Indonesia, diakui cukup kuat untuk diajak menanggung risiko global yang paling kompleks saat ini: Gaza.
Lalu, apa sebenarnya Board of Peace ini, dan mengapa posisi Indonesia di dalamnya sangat krusial?
BoP diposisikan sebagai konsorsium negara-negara yang ditugaskan mengawal masa transisi pascakonflik di Gaza.
Agendanya berderet mulai dari gencatan senjata, stabilisasi keamanan, hingga rekonstruksi dan pemulihan tata kelola sipil.
Dari hasil rapat perdana di Washington, setidaknya terdapat tiga poros keputusan yang krusial.