Oleh:Ruben Cornelius Siagian
KONFERENSI Cabang sering kali dirayakan dengan euforia demokrasi organisasi, tetapi jarang dipahami sebagai ruang penghakiman moral terhadap perjalanan sebuah gerakan.
Konferensi Cabang ke-37 GMKI Cabang Medan bukan sekadar forum seremonial pergantian kepemimpinan, melainkan momentum evaluasi sejarah, yaitu apakah GMKI masih menjadi gerakan nilai, atau hanya menjadi organisasi yang hidup dari nostalgia kejayaan masa lalu.
Baca Juga: Rico Waas Tantang Pemuda Medan: Jangan Sekadar Kritik, Tapi Hadirkan Solusi Nyata untuk Pembangunan Konfercab ini diikuti oleh 23 komisariat dari seluruh kampus di Medan, di mana masing-masing komisariat rata-rata mengirimkan 8 delegasi dan 2 peninjau, sehingga diperkirakan sedikitnya 230 peserta terlibat langsung dalam forum ini.
Jumlah tersebut belum termasuk kehadiran BPC yang mempertanggungjawabkan kepengurusan serta para senior yang melakukan fungsi pengawasan dan pembinaan. Mereka adalah calon-calon pemimpin Kota Medan, Sumatera Utara, bahkan Indonesia di masa depan.
Konferensi Cabang sering kali dirayakan dengan euforia demokrasi organisasi, tetapi jarang dipahami sebagai ruang penghakiman moral terhadap perjalanan sebuah gerakan.
Konferensi Cabang ke-37 GMKI Cabang Medan bukan sekadar forum seremonial pergantian kepemimpinan, melainkan momentum evaluasi sejarah, yaitu apakah GMKI masih menjadi gerakan nilai, atau hanya menjadi organisasi yang hidup dari nostalgia kejayaan masa lalu.
Konfercab ini diikuti oleh 23 komisariat dari seluruh kampus di Medan, di mana masing-masing komisariat rata-rata mengirimkan 8 delegasi dan 2 peninjau, sehingga diperkirakan sedikitnya 230 peserta terlibat langsung dalam forum ini.
Jumlah tersebut belum termasuk kehadiran BPC yang mempertanggungjawabkan kepengurusan serta para senior yang melakukan fungsi pengawasan dan pembinaan. Mereka adalah calon-calon pemimpin Kota Medan, Sumatera Utara, bahkan Indonesia di masa depan.
GMKI dan Warisan Moral Sejarah Pergerakan
GMKI lahir bukan dari ruang nyaman, melainkan dari pergumulan sejarah gereja dan bangsa yang sarat konflik, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial.
GMKI dibangun di atas kesadaran bahwa mahasiswa Kristen tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah, melainkan subjek perubahan.