Oleh:Ishaq Zubaedi Raqib.
USAI melaporkan rasio perkembangan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi, Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf tampak tidak rasional lagi.
Dengan baret merah menyala tanda kuatnya tekad dan kemeja putih bersih isyarat kesucian niat, Mensos yang awalnya gagah melangkah, hatinya mendadak rapuh justru di saat hendak menutup kata.
Baca Juga: KIP Kabulkan Gugatan, Salinan Ijazah Presiden Jokowi Harus Diberikan ke Publik Langkahnya berat. Barisan anak tangga seakan-akan menjauh. Jiwanya berguncang hebat. Suaranya lenyap di palung jiwa. Ia tak kuasa beruluk salam ikhtitam.
"Dan kelak ketika anak-anak di tepian sungai, di lereng bukit dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan, di masa itu pernah ada seorang presiden yang menanam harapan dan menamainya sekolah rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI Purnawirawan Prabowo Subianto," kata Mensos lirih. Hujan air mata dari pelosok negeri.
Laskar air mata terbang ke awan, membasahi kemarau panjang jutaan jiwa kaum duafa.
Emosi Gus Ipul, sapaan Mensos itu hinggap di jiwa 15.945 siswa Sekolah Rakyat. Lalu menetap di jiwa sang penggagas, Presiden Prabowo, mantan panglima para komando yang "haram" menangis, mengaku tenggelam dalam haru.
"Saya sangat terkesima. Saya sangat terharu. Bahkan, mudah-mudahan kamera nggak menuju ke saya tadi. Sulit saya tahan air mata juga. Sama dengan Mensos," kata presiden.
Tenda raksasa itu pun berada dalam gelombang pekur yang magis!
Gambar, bagan, kurva dan tabel statis di layar besar, di sekolah rintisan di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada tanggal 12 Januari 2026 itu, pun berbicara banyak.
Di layar itu, di hadapan para menteri, gubernur, bupati juga para wali kota, Gus Ipul tidak saja memaparkan soal angka tetapi juga mengingatkan soal hakikat suara yang sekian lama tidak terdengar
. Suara yang ditelan riuh pembangunan. Bahkan dengan suara paling lirih pun, kaum papa itu tak mampu mencatatnya dalam doa.