bitvonline.com- Amerika Serikat tidak sekadar terlibat dalam konflik global—ia membentuk, membiayai, dan melanggengkan perang. Ketika Washington berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia, fakta di lapangan justru menunjukkan kebalikan: dukungan terhadap pembantaian, penghancuran negara, dan penindasan rakyat sipil demi kepentingan geopolitik.
Palestina: Amerika sebagai Pelindung Kejahatan PerangDalam tragedi Palestina, posisi Amerika Serikat tidak netral dan tidak bisa dibantah. Amerika adalah penopang utama agresi Israel terhadap rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza.
Baca Juga: China Desak AS Bebaskan Maduro, Hentikan Upaya Gulingkan Rezim Venezuela Senjata buatan Amerika digunakan dalam pemboman permukiman padat penduduk
Rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsi menjadi sasaran.
Ribuan warga sipil tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak
Ketika dunia internasional menuntut gencatan senjata, Amerika berkali-kali menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Israel dari sanksi dan penyelidikan internasional.Ini bukan lagi sekadar dukungan politik. Amerika berperan sebagai pelindung kejahatan perang, memungkinkan pembantaian berlangsung tanpa konsekuensi hukum.
Jika negara lain melakukan hal serupa, Amerika akan menyebutnya "kejahatan terhadap kemanusiaan". Namun ketika sekutunya melakukannya, Washington memilih membungkam dunia.
Venezuela: Agresi Tanpa Bom, Korban Tetap Nyata
Venezuela menjadi contoh bagaimana Amerika menjalankan perang gaya baru. Tanpa invasi terbuka, Amerika menggunakan:
Sanksi ekonomi yang melumpuhkanTekanan diplomatik ekstremDukungan terhadap upaya kudeta dan destabilisasi
Dampaknya langsung dirasakan rakyat:
Krisis pangan dan obat-obatanInflasi ekstremRuntuhnya layanan publik
Sanksi yang dijatuhkan Amerika bukan hukuman terhadap pemerintah, melainkan hukuman kolektif terhadap rakyat sipil. Ini adalah bentuk agresi modern yang sama mematikannya dengan bom—hanya lebih "bersih" secara citra.