Oleh:Prof. Dr. ALI KHOMSAN
*KAUM perempuan dan anak-anak adalah kelompok paling rawan untuk menderita kekurangan gizi (the most nutritionally vulnerabale groups) di tempat-tempat yang dilanda banjir bandang atau di pengungsian.
Dalam kondisi normal saja mereka sudah termasuk golongan berisiko, apalagi dalam suasana darurat ketika tinggal di pengungsian.
Baca Juga: Dari Medan Hingga Aceh, Jamkrindo Syariah Salurkan Bantuan Kemanusiaan Rp500 Juta Perempuan hamil dan menyusui serta anak-anak balita perlu mendapat perhatian besar mengingat tingkat kerusakan fisik akibat banjir di Sumatra yang sangat luar biasa, demikian pula akibat hancurnya kehidupan sosial dan ekonomi di sana.
Mereka yang selamat dari amukan banjir, kini kondisinya sungguh tak berdaya.
Hilangnya harta benda, tempat tinggal dan stres psikologis membuat kaum perempuan dan anak-anak menjadi rentan derajat kesehatan dan gizinya.
Upaya-upaya penanggulangan masalah pengungsi harus terus dimaksimalkan sehingga mereka bisa segera pulih dari penderitaan akibat banjir.
Musibah banjir di Sumatra dengan korban lebih dari 1000 jiwa dan ribuan lainnya menjadi pengungsi dapat memunculkan masalah pangan dan gizi yang serius.
Akses pangan terganggu karena habisnya persediaan atau putusnya jalur distribusi.
Jalan-jalan rusak berat membuat pasokan pangan bertambah sulit. Golongan rawan seperti anak balita memerlukan perawatan kesehatan karena terancam diare atau muntaber.
Posko-posko kesehatan kini terus bekerja keras untuk menyelamatkan anak bangsa yang sedang tertimpa bencana.
Ketika bencana besar datang menghantam, dapat dibayangkan ribuan masyarakat tiba-tiba menjadi pengungsi secara serentak.