Oleh: Nofiyendri Sudiar
''BEBERAPA tahun terakhir, kita semakin sering mendengar keluhan yang sama: hujan terasa lebih lebat, datang lebih sering, dan berlangsung lebih lama. Banjir yang dulu dianggap kejadian langka kini muncul hampir setiap musim hujan.
Baca Juga: Banjir Rendam Sejumlah Ruas Jalan di Tanjungbalai, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem Angin kencang tidak lagi mengejutkan, tetapi justru menimbulkan kewaspadaan rutin. Seolah-olah, sesuatu sedang berubah-namun sulit kita jelaskan secara sederhana.
Masalahnya, banyak dari kita masih membaca peristiwa ini sebagai cuaca semata. Padahal, yang sedang bergeser bukan hanya cuaca harian, melainkan pola iklim itu sendiri.
Di sinilah letak kesalahpahaman yang sering terjadi: kita menilai kejadian hari ini tanpa melihat perubahan statistik di belakangnya.
Cuaca adalah apa yang kita rasakan dari hari ke hari-hujan, panas, atau angin. Iklim berbeda. Ia berbicara tentang kecenderungan jangka panjang, tentang peluang, tentang seberapa sering suatu kejadian bisa terulang.
Perubahan iklim tidak berarti setiap hari akan terjadi cuaca ekstrem, melainkan bahwa peluang terjadinya kejadian ekstrem itu semakin besar.
Dulu, hujan sangat lebat mungkin dikategorikan sebagai peristiwa dua puluh atau tiga puluh tahunan. Kini, hujan dengan intensitas serupa dapat muncul setiap beberapa tahun, bahkan berulang dalam satu musim hujan yang sama.
Artinya, yang dulu kita sebut sebagai anomali perlahan bergeser menjadi bagian dari pola baru. Inilah yang oleh para ilmuwan disebut sebagai "normal baru" iklim.
Normal baru ini sering disalahartikan sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, yang berubah bukan hanya frekuensi, tetapi juga intensitas dan akumulasi. Hujan ekstrem yang datang sekali mungkin masih dapat ditoleransi oleh alam dan sistem manusia.
Namun hujan ekstrem yang datang berulang, dalam jarak waktu yang berdekatan, menciptakan tekanan yang jauh lebih besar.