Oleh: GusWedha
SETIAP kali pariwisata Bali dibicarakan, satu pertanyaan klise selalu muncul: "Kenapa Bali terlihat sepi?" Pertanyaan ini bukan hanya dangkal, tetapi juga menunjukkan cara berpikir yang keliru dalam membaca industri pariwisata.
Baca Juga: Kejurnas Barongsai 2025 di Bali: Olahraga dan Budaya Menjadi Magnet Pariwisata Pariwisata bukan lomba keramaian, dan jalanan padat bukan indikator kesehatan ekonomi.
Membandingkan Bali dengan Yogyakarta semata-mata dari jumlah orang di ruang publik adalah kesalahan logika. Keduanya tidak pernah berada di lintasan yang sama.
Yogyakarta dibangun sebagai destinasi wisata domestik massal yang murah, cepat, dan padat.
Bus-bus pariwisata datang silih berganti, rombongan pelajar memenuhi trotoar, dan kamera media merekam kepadatan sebagai simbol "hidupnya" pariwisata.Namun, apakah ramai selalu berarti berhasil? Tidak selalu.
Bali sejak awal diarahkan menjadi destinasi internasional dengan struktur ekonomi pariwisata bernilai tinggi.
Wisatawan Bali tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Mereka tinggal lebih lama, membelanjakan lebih besar, dan menyerap rantai ekonomi yang jauh lebih kompleks.
Transaksi besar terjadi di ruang-ruang yang jarang diliput kamera: vila privat, resor eksklusif, pusat konvensi, restoran fine dining, hingga industri kreatif berbasis pengalaman.Masalahnya, public dan sering kali pembuat opini seperti terjebak pada apa yang terlihat, bukan pada apa yang bekerja.
Jalanan sepi langsung diterjemahkan sebagai krisis, padahal bisa jadi itu adalah konsekuensi dari pergeseran model pariwisata: dari kuantitas ke kualitas. Dari kerumunan ke keberlanjutan.
Sebaliknya, pariwisata massal menyimpan paradoksnya sendiri. Kepadatan tinggi sering kali datang bersama tekanan lingkungan, upah murah, komodifikasi budaya, dan ekonomi yang rapuh. Banyak yang ramai, tetapi tidak semuanya sejahtera.