Oleh:Victor Yasadhana
MESKIPUN berdasarkan Surat Edaran PGRI Nomor 447/Um/PB/XIX/2007 tanggal 27 November 2007 secara resmi lirik lagu Hymne Guru yang diciptakan (alm) Sartono tidak lagi menyatakan guru sebagai pahlawan tanda jasa, narasi bahwa guru adalah 'pahlawan'--dan lebih lagi 'tanpa tanda jasa'--telanjur melekat di benak banyak orang Indonesia. Secara global, guru sebagai 'pahlawan' telah dianggap sebagai kebenaran tak terelakkan.
Masyarakat membangun narasi ini untuk merepresentasikan kekaguman terhadap profesi yang lekat dengan dedikasi dan pengorbanan. Guru dipandang sebagai mentor, sumber ilmu, sekaligus jaminan masa depan murid-muridnya.
Baca Juga: Tangis Kakak Marsinah Pecah di Istana Negara: Marsinah Resmi Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2025 Sosok guru banyak digambarkan sebagai manusia yang berbuat melebihi harapan kebanyakan manusia. Karena itu, di berbagai budaya dan masyarakat, profesi guru selalu menempati posisi terhormat.
Namun, benarkah narasi 'guru sebagai pahlawan' tepat? Apakah kepahlawanan yang disematkan memberikan keuntungan pada guru dalam menjalankan tugasnya? Lebih jauh, apakah menempatkan 'guru sebagai pahlawan' adalah salah satu cara yang tepat untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita?
NARASI KEPAHLAWANANPahlawan atau hero (dan heroine) berasal dari kata dalam bahasa Yunani, heros, yang dimaknai sebagai pelindung (protector) atau penjaga (safeguard). Terminologi ini telah mengalami perubahan seiring waktu.
Dalam mitologi Yunani kuno, heros merujuk pada figur dengan kemampuan super--sering kali perpaduan dewa dan manusia--yang melakukan kebaikan seperti memerangi monster.
Pada masa modern, sebutan pahlawan berkembang dan identik dengan pahlawan perang, mereka yang biasanya menunjukkan keberanian, pengorbanan (bahkan mengorbankan hidup mereka), seiring dengan berbagai kualitas diri atau karakter baik (noble qualities) seperti teguh pendirian, dapat dipercaya, integritas/jujur, berkehendak kuat, dan sebagainya.
Oleh karena itu, kita menemukan pahlawan dalam banyak aspek kehidupan, seperti paramedis, pemadam kebakaran, dan tenaga kesehatan garda depan.
Dalam banyak narasi, baik yang autentik maupun yang sengaja dikonstruksi, guru hampir selalu dilukiskan sebagai sosok yang penuh dengan kebaikan. Kalaupun ada kisah buruk tentang seorang guru, pesan moralnya tetap sama.
Kisah itu justru menggambarkan kualitas yang tidak diharapkan dari seorang guru sehingga pada akhirnya ia dianggap tidak pantas menyandang gelar tersebut.
Dalam perjalanan sejarah di Indonesia, bahkan guru pernah identik dengan istilah 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang dimaknai sebagai perayaan penghargaan terhadap kerja tanpa pamrih, pengorbanan di jalan sunyi, dan kerendahan hati demi orang lain: murid mereka. Kisah tentang guru sering didominasi gambaran kerasnya kehidupan mereka: gaji yang kecil, medan yang sulit, dan fasilitas sekolah yang tidak layak.