Oleh: Faidatul Hikmah.
DI negeri yang bisa ribut soal telur ayam vs telur bebek dan percaya bahwa kipas angin bisa menyebabkan masuk angin, dan debat panjang soal "lebih enak sambal terasi atau sambal bawang", wajar jika pembahasan isu tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ikut terseret drama nasional dan tentu saja tidak pernah sederhana.
Begitu kata "nuklir" muncul, imajinasi sebagian masyarakat langsung berlari ke arah adegan film fiktif, radiasi, monster mutan, sampai nelayan pulang dari laut dengan ikan bercahaya.
Baca Juga: Menuju PLTN Pertama Indonesia Pada Tahun 2032 Padahal di balik drama dan ketakutan tersebut, ada satu kenyataan yang pelan-pelan mulai disadari dunia: masa depan energi bersih dan stabil kemungkinan besar akan bertumpu pada teknologi nuklir.
Antara Logika dan Luka Kolektif Masa LaluBaik, mari kita jujur: kata "nuklir" memang punya reputasi campur-aduk. Ya, sejarah nuklir tidak steril dari tragedi, Hiroshima, Chernobyl, dan Fukushima.
Seolah-olah daftar itu cukup untuk mengubur potensi teknologi yang sama dalam menyediakan listrik murah, stabil, dan bersih.
Tapi begini: kita hidup di zaman ketika, Pesawat lebih aman dari naik motor di jalanan rusak, Mobil listrik mulai menggantikan bensin, Dan robot sudah bisa melamar kerja jadi customer service.
Tapi bayangkan, jika manusia berhenti membangun kapal setelah Titanic tenggelam, atau menolak pesawat karena kecelakaan Wright Brother pertama.
Teknologi berevolusi. Pengetahuan berkembang dan memperbaiki kesalahan. Tetapi ketakutan publik sering tertinggal, terjebak pada kejadian puluhan tahun lalu, tanpa melihat kemajuan sistem keselamatan nuklir generasi baru.
Jika kita menolak PLTN hanya karena trauma masa lalu dunia, itu sama seperti menolak naik kapal karena pernah dengar cerita Titanic.
Hari ini, generasi reaktor baru dirancang dengan fitur keselmatan pasif, standar IAEA semakin ketat dan hingga negara muslim sampai Eropa memasukkan energi nuklir dalam strategi energi hijau.
Ketakutan masa lalu memang berat, tapi masa depan tidak bisa disandera dengan trauma.