Oleh:Adrian Azhar Wijanarko.
KASUS sepeda motor yang mendadak brebet usai mengisi Pertalite bukan sekadar gangguan mesin. Ini menjadi simbol rapuhnya kepercayaan publik terhadap mutu bahan bakar nasional dan tata kelola energi yang kian eksklusif.
Bagi banyak konsumen, kerugian itu tak hanya material, tapi juga emosional. Hal tersebut dapat berdampak terhadap potensi kekhawatiran dan hilangnya rasa percaya saat mengisi bensin di SPBU milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Lesu di Rp16.649/USD, Bagaimana Prospeknya Pekan Ini? Gerak Cepat PertaminaPertamina Patra Niaga dalam hal ini memang bergerak cepat. Pertamina mengambil sampel BBM, menjanjikan uji laboratorium, bahkan menurunkan pejabat tinggi ke lapangan untuk meninjau kualitas BBM.
Langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab korporasi. Namun publik menanti lebih dari sekadar inspeksi teknis.
Publik butuh jaminan pengalaman pengguna yang lebih baik dan kepastian bahwa kejadian serupa tak berulang.
Dalam era digital, reputasi tidak dibangun lewat laporan resmi, tetapi lewat pengalaman yang dibagikan secara viral.
Satu video pengguna yang motornya mogok di depan SPBU dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi resmi yang bertele-tele.
Ketika cerita negatif lebih banyak terdengar daripada penjelasan yang transparan, kepercayaan publik menurun.
Bahkan jika hasil laboratorium nantinya menunjukkan Pertalite memenuhi standar, persepsi masyarakat sudah telanjur terbentuk. Dan reputasi yang rusak karena pengalaman buruk jauh lebih sulit dipulihkan dibanding kerusakan teknis mesin.
Kebijakan Penuh KontroversiKrisis ini terjadi di tengah kebijakan baru pemerintah yang melarang impor BBM oleh sejumlah perusahaan swasta.
SPBU non-Pertamina pun mengalami kekosongan stok, membuat masyarakat tidak punya banyak pilihan selain membeli di SPBU Pertamina.