Oleh:Trubus Rahardiansah. WACANA penghentian sementara Program Makan Ber
gizi Gratis (
MBG) yang mencuat di media sosial beberapa hari terakhir seharusnya menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan, tetapi bukan alasan untuk menarik rem. Menghentikan
program secara menyeluruh akan menjadi langkah mundur yang merugikan jutaan anak dan keluarga yang telah bergantung pada akses
gizi dari
program ini.
Baca Juga: Menu Ikan Hiu Goreng Diduga Jadi Pemicu 25 Siswa dan Guru Keracunan MBG di Ketapang Saya melihat
program MBG merupakan salah satu intervensi sosial paling progresif yang pernah dilakukan pemerintah. Tujuannya bukan sekadar memberikan makanan gratis, melainkan menjamin hak dasar warga negara atas
gizi yang layak, sebuah investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia Indonesia.Program
MBG memang masih memerlukan banyak penyempurnaan dalam hal kontrol kualitas dan keamanan pangan, itu fakta yang tidak bisa kita pungkiri. Namun, wacana untuk menghentikan sementara seluruh
program adalah sebuah langkah mundur. Ini sama saja dengan menghilangkan akses pangan ber
gizi bagi jutaan anak dan keluarga yang membutuhkan.Benar bahwa kasus keracunan makanan di beberapa daerah adalah sinyal serius tentang lemahnya kontrol kualitas dan keamanan pangan di sebagian unit pelaksana. Ini tidak bisa diabaikan.Namun, menjadikan insiden tersebut sebagai dalih untuk menghentikan
program nasional sama artinya dengan mematikan akses pangan ber
gizi bagi seluruh penerima manfaat, termasuk mereka yang tidak terdampak masalah kualitas.Pendekatan reaktif seperti ini berpotensi mengorbankan momentum besar yang sudah terbangun dalam beberapa bulan terakhir. Banyak unit
SPPG yang sudah sesuai dengan standar dan menyajikan makanan yang layak, ber
gizi, dan disukai anak.