Merawat Kesehatan Mental: Tanggung Jawab Bersama yang Sering Diabaikan

Redaksi - Senin, 25 Agustus 2025 07:36 WIB
Ilustrasi. (foto: ybgr)

Oleh:Marina Nova Wahyuni

KESEHATAN mental sering menjadi bahan seminar, tetapi jarang menjadi agenda nyata di ruang-ruang rapat sekolah. Di tengah laju perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, para guru dan siswa, juga masyarakat, dipaksa beradaptasi dengan tekanan yang semakin kompleks.

Lingkungan yang kurang mendukung, relasi sosial yang rapuh, pola hidup yang tidak sehat, serta tuntutan psikologis yang berlebihan membuat kesehatan mental rentan terganggu. Ini bukan sekadar masalah personal, tetapi juga cermin dari sistem pendidikan yang belum sepenuhnya memahami bahwa kesehatan mental adalah fondasi kualitas belajar dan kehidupan sosial.

TANTANGAN PENDIDIKAN YANG MENEKAN DARI DUA ARAH

Sistem pendidikan kita kerap menuntut banyak hal dari siswa: tugas akademik yang menumpuk, kompetisi berlebihan, serta paparan media sosial tanpa literasi digital yang memadai. Akibatnya, muncul rasa cemas, depresi, bahkan trauma. Ironisnya, sekolah sering kali tidak menyediakan layanan konseling yang memadai. Kurangnya tenaga profesional dan minimnya program preventif membuat masalah ini baru terlihat saat sudah parah.

Guru pun menghadapi tekanan besar. Kebijakan pendidikan yang sering berubah menuntut mereka selalu adaptif, sementara administrasi yang menumpuk menggerus waktu untuk mendampingi siswa. Peran ganda di rumah, sebagai orangtua, pasangan, atau anak, menambah beban emosional. Peran guru yang seharusnya berfokus pada pembelajaran sering tereduksi menjadi sekadar memenuhi target administratif. Kondisi ini, dalam jangka panjang, merusak kesehatan mental guru dan mengikis kualitas hubungan guru–siswa.

Tekanan yang dialami siswa dan guru saling memengaruhi. Siswa yang tertekan sulit belajar efektif, guru yang lelah secara mental sulit memberi dukungan penuh. Lingkaran ini harus diputus jika pendidikan ingin berjalan optimal.

MERAWAT KESEHATAN MENTAL: ANTARA KESADARAN DAN KEBIJAKAN

Menjaga kesehatan mental memang tanggung jawab individu, dengan istirahat cukup, pola makan sehat, olahraga, relaksasi, dan membangun hubungan positif. Namun, membebankan seluruh beban pada individu tanpa memperbaiki sistem ibarat memaksa orang berenang di laut bergelombang tanpa pelampung.

WHO (2022) menekankan pentingnya intervensi di tingkat individu, sosial, dan struktural. Artinya, harus ada kebijakan pendidikan yang berpihak pada kesejahteraan psikologis. Mengelola stres bukan sekadar melakukan yoga atau mendengarkan musik; ia memerlukan jadwal belajar yang manusiawi, target kerja realistis, dan ruang aman untuk berdialog.

Sayangnya, di banyak sekolah, guru yang stres dianggap kurang tahan banting, siswa yang depresi dianggap lemah. Paradigma ini mengabaikan akar persoalan yang bersumber dari budaya sekolah dan kebijakan yang tidak peka terhadap aspek psikologis.


Editor
: Adelia Syafitri

Tag:

Berita Terkait

Opini

YouTube Luncurkan Fitur Batas Waktu Shorts untuk Remaja, Perluas Perlindungan Konten

Opini

Jangan Salah! Ternyata Mental Sehat Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah

Opini

Pria di Cilincing Tewas Gantung Diri, Polisi Diduga karena Frustrasi Kecanduan Judi Online

Opini

JKN Biayai Pengobatan Gangguan Jiwa: Skizofrenia, Bipolar hingga Depresi Gratis

Opini

Sering Bengong, Apakah Tanda Gangguan Mental? Simak Penjelasannya

Opini

Ahli Gizi: Makanan Sehat untuk Usus Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental