MEDAN – Piala Gubernur Sumatera Utara (Sumut) 2025/2026 mencatatkan sejarah sebagai Liga 4 pertama di Indonesia yang menggunakan operator swasta.
Langkah ini diharapkan dapat mendorong profesionalisme kompetisi, dengan pengelolaan yang lebih efisien dan setara dengan liga-liga di tingkat yang lebih tinggi.
Sebelumnya, Liga 4 di Sumut dan beberapa daerah lainnya diselenggarakan langsung oleh PSSI, yang seringkali membebani klub-klub peserta.
Baca Juga: Meski Negara Lain Umumkan Darurat Energi, Bahlil Klaim Cadangan Minyak RI Cukup 21–28 Hari Para klub diwajibkan menyiapkan berbagai kebutuhan pertandingan, mulai dari penyediaan lapangan hingga biaya operasional lainnya.
Dengan pengelolaan oleh operator swasta, hal ini diharapkan dapat mengurangi beban klub, serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan pertandingan.
Gubernur Sumut, Muhammad Bobby Afif Nasution, menegaskan bahwa sistem baru ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kompetisi.
"Dengan pengemasan yang baru, kita berharap kualitas pemain, pelatih, dan wasit bisa berkembang dengan baik dan masuk ke tingkat yang lebih profesional," kata Bobby Nasution dalam sambutannya usai membuka Liga 4 Sumut di Lapangan Yon Zipur I/DD, Helvetia, Medan, Kamis (26/3/2026).
Penerapan skema operator swasta ini juga diharapkan dapat menciptakan atmosfer kompetisi yang lebih tertib dan disiplin.
Bobby menekankan pentingnya menjaga citra positif liga, mengingat beberapa pertandingan Liga 4 di daerah lain kerap kali diwarnai dengan insiden yang merusak sportivitas, baik dari suporter maupun pemain.
"Saya titip kita semua agar Liga 4 wilayah Sumut tidak viral dengan kejadian negatif seperti yang terjadi di tempat lain. Semoga pertandingan berlangsung dengan penuh disiplin," tambah Bobby.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asprov PSSI Sumut, Arya Sinulingga, menyatakan bahwa terdapat 17 klub yang berpartisipasi dalam kompetisi tahun ini, dengan total 50 pertandingan yang akan digelar di tiga venue, yaitu Lapangan Yon Zipur, Lapangan Sepak Bola Universitas Negeri Medan (Unimed), dan Cadika.
"Ini adalah kompetisi Liga 4 yang paling murah, karena operator swasta telah mengelola berbagai hal terkait penyelenggaraan pertandingan. Klub dan SSB tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk penyewaan lapangan. PSSI hanya fokus pada regulasi," jelas Arya Sinulingga.