PADANGSIDIMPUAN — Banyak anak berbakat dalam sepak bola usia 8 hingga 12 tahun kerap menonjol dan meraih juara.
Namun, fenomena ini sering hilang saat mereka memasuki usia 16 tahun.
Menurut Rahmad R. Nst, hal ini disebabkan ketidaktahuan orang tua tentang arti proses dalam pembinaan olahraga.
Baca Juga: Imbang Dramatis! Harapan Putra vs Mabes FC Tuntas 1-1 di Turnamen Peduli Sepak Bola U-17 Padangsidimpuan "Orang tua sering menilai sukses dari juara, piala, top scorer, atau best player semata," ujarnya.
Sebagai pembina sepak bola, Rahmad menekankan pentingnya pola latihan dan pembinaan yang konsisten mulai usia 4 hingga 20 tahun.
Tujuannya, agar anak-anak tidak merasa tertekan dan mengalami burnout akibat terlalu fokus pada kemenangan.
"Pembinaan anak usia dini bukanlah perlombaan untuk sukses instan. Proses, ritme, dan pondasi yang benar adalah kunci mencetak pemain hebat," tambahnya.
Rahmad menjelaskan tiga fase penting dalam pembinaan sepak bola:
1. Learning Phase (Usia 4–12 tahun): Anak-anak diperkenalkan dengan teknik dasar dan kesenangan bermain sepak bola tanpa tekanan. Tujuannya, menumbuhkan cinta pada permainan sehingga talenta mereka berkembang secara alami.
2. Game Phase (Usia 12–16 tahun): Fokus pada pemahaman taktik, posisi, dan permainan tim. Penekanan bukan pada kemenangan, melainkan kemampuan membaca permainan sesuai usia.
3. Performance Phase (Usia 16–20 tahun ke atas): Membangun kesiapan fisik, mental, disiplin, dan kebiasaan profesional. Tidak semua pemain akan mencapai puncak, namun proses pembinaan yang tepat menghasilkan manusia yang hebat, baik di lapangan maupun di kehidupan sehari-hari.
Indra Saputra, salah satu pembina sepak bola di Kota Padangsidimpuan, menambahkan, penerapan fase ini menjadi kunci meningkatkan mutu sepak bola di SSB (Sekolah Sepak Bola) sehingga anak-anak memiliki pelatihan yang tepat dan tidak bermain asal-asalan.