Sergai – Kabupaten Serdang Bedagai saat ini dalam masa Peningkatan Pengadaan Infrastuktur seperti Pembangunan Pengadaan saluran air (Drainase), TPT (Tembok Penahan Tanah).
Seperti yang terpantau awak media Proyek Pembangunan TPT di Desa Tegal Sari,Desa Bukit Cermin dan Kelurahan Dolok Masihul, Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. Sabtu (13/05).
Namun sangat di sayangkan di setiap Proyek Pembangunan tersebut tidak ada satupun papan pemberitahuan atau papan informasi yang dapat di lihat atau di ketahui oleh masyarakat.
Bukan cuma papan informasi yang tidak ada di pasang untuk mengetahui anggaran pengerjaan dan volume bangunan, namun masyarakat sekitar pun di bingungkan dengan proyek tersebut dari anggaran pemerintahan mana pengerjaan itu berasal.
Masyarakat hanya dapat melihat bahwa Proyek Yang ada di Desa nya sudah di kerjakan oleh sekelompok orang yang tidak di ketahui dari mana asal nya.
Masyarakat bertanya tanya tentang dari anggaran mana Proyek tersebut di bangun. Apakah itu dari Desa,apakah Proyek dari kabupaten atau proyek dari propinsi” soalnya pekerjaan ini hampir selesai tapi tak ada papan pemberitahuan pekerjaan dari mana dan berapa volumenya?
Salah satu contoh pembangunan drainase di Desa Tegal Sari tepatnya di pinggir jalan utama kabupaten sergai yang menghubungkan desa Tegal Sari ke Desa – desa lainya serta ke kecamatan Dolok masihul terkesan asal jadi dan abal – abal.
Drainase yang di bangun sekitar +900 M dari sumber dana yang tidak jelas itu kini masih dalam pengerjaan atau belum serah terima , dengan tidak di cantumkannya papan informasi volume serta panjang bangunan tersebut hal ini di duga ada unsur kesengajaan untuk melancarkan melakukan korupsi demi memperkaya diri dan mudah melakukan Mark-up oleh pihak CV yang tidak jelas keberadaanya bahkan pekerjaan itu terlihat rapuh dan rentan hancur
Menurut pantauan awak media bangunan drainase yang di kerjakan pihak dinas antah barantah ke CV siluman tersebut bukan di kerjakan seperti layaknya di bangun tapi drainase yang sudah di bangun itu perlu di bongkar ulang karena dianggap tidak sesuai dengan bestek karena campuran semen dan pasir terkesan satu banding lima ( semen satu sak pasirnya lima angkong).
Saat awak media menemui seseorang yang di anggap itu adalah pelaku pelaksana kegiatan tersebut untuk bisa mendapat informasi yang jelas yang namanya enggan memberitahukan ke pada media mengatakan ” saya ini hanya pekerja bang, saya tidak tahu apa – apa tentang proyek ini , saya bekerja disini yang penting dapat gaji dan apa tugas saya ya saya kerjakan,yang bukan kerjaan saya tidak saya kerjakan begitu bang” . ucapnya sambil berlalu meninggalkan awak media yang berupaya sedang mengutip informasi
Masyarakat sekitar tiga orang yang sedang berkumpul di dekat proyek pengerjaan tersebut yang masing – masing namanya tidak ingin di tuliskan di media ketika di konfirmasi juga menjelaskan ” kami saja di sini tidak tahu ini proyek pemerintahan desa kah ,proyek dari kabupaten kah atau proyek dari propinsi” soalnya pekerjaan ini hampir selesai tapi tak ada papan pemberitahuan pekerjaan dari mana dan berapa volumenya?.lihat saja bangunannya lebih banyak pasir dari semen,menurut kami lima banding satu pasir lima angkong semen satu sak.
Tambahnya “, belum lagi pemasangan batu beronjongnya itu lebih banyak longgarnya, jika di perhatikan batu bronjong hanya di tempel di susun di pinggirnya saja, dan tidak memakai Pondasi, maka nya terlihat rapuh. bibir paritnya di poles semen tipis sekali, pokoknya beda dengan bangunan desa ” jelasnya
(Lbs)