MEDAN - Sebanyak 19 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut) terdampak kabut asap pada Kamis (8/10/2026). Kondisi tersebut membuat kualitas udara di sejumlah wilayah berada pada kategori sedang hingga tidak sehat serta menurunkan jarak pandang.
Kepala Balai Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan Hendro Nugroho mengatakan kondisi itu terpantau berdasarkan konsentrasi PM2.5 atau partikel berukuran sangat kecil di udara.
"Berdasarkan pemantauan kualitas udara konsentrasi PM2.5 atau partikel sangat kecil di udara, udara di Sumatera Utara berada pada kategori sedang hingga tidak sehat," ujar Hendro dalam keterangan tertulisnya.
Baca Juga: Sengit! Ungguli Rival Tipis 10 Suara, Aris Rinaldi Cetak Rekor Pimpin Forwakum Sumut 3 Periode 19 wilayah yang terdampak asap tersebut yakni Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu Utara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Toba, Samosir, Serdang Bedagai, Batubara, Simalungun, Asahan, Humbang Hasundutan, Kota Padang Sidempuan, Kota Tebing Tinggi, Kota Pematang Siantar, dan Kota Tanjung Balai.
BMKG belum dapat memastikan sumber asap secara rinci. Hendro mengatakan pemantauan yang dilakukan BMKG menggunakan satelit cuaca sehingga belum disertai pengecekan langsung di lapangan.
Meski demikian, berdasarkan pemantauan satelit pada Rabu (7/10/2026), terdapat lima titik panas (hotspot) yang tersebar di Sumut. Titik panas tersebut terpantau berada di Deli Serdang, Labuhanbatu Selatan, dan Padang Lawas Utara.
Jarak Pandang TurunKabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang di sejumlah wilayah. Berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi Aek Godang dan Stasiun Meteorologi Silangit, jarak pandang turun menjadi sekitar 4-5 kilometer.
"Terjadi penurunan jarak pandang menjadi berkisar antara 4-5 km. Masyarakat yang berada di wilayah jarak pandang rendah akibat kabut dan asap diimbau untuk berhati-hati saat berkendara, menjaga jarak pandang, dan menggunakan perlengkapan yang sesuai," kata Hendro.
BMKG juga mengimbau para kepala daerah untuk berkoordinasi dengan BPBD, TNI, dan Polri setempat. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memantau perkembangan kondisi serta mengikuti informasi terbaru yang disampaikan BMKG Wilayah I Medan.* (km/dh)