BANDA ACEH — Kisah terpilihnya Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah kepemimpinan umat Islam.
Kisah tersebut disampaikan Ustaz Prof. Dr. H. Alyasa' Abubakar, MA, dalam ceramahnya di Masjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh, Ahad, 4 Oktober 2026.
Menurut Alyasa', kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang siapa yang menjadi khalifah setelah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.
Baca Juga: Benarkah Salat Peminum Khamar Tidak Diterima Selama 40 Hari? Ini Penjelasannya Lebih dari itu, proses tersebut memberikan pelajaran tentang bagaimana persoalan kepemimpinan diselesaikan melalui musyawarah dan mengutamakan kepentingan umat.
Ia mengajak jamaah melihat kembali bagaimana para sahabat menentukan pemimpin setelah Umar bin Khattab terluka parah akibat ditikam.
Pertanyaannya, apakah saat itu terjadi perebutan kekuasaan, kampanye, saling menjatuhkan, atau ada sahabat yang mengklaim dirinya paling pantas menjadi pemimpin?
Menurut kisah yang disampaikan Alyasa', jawabannya tidak.
Umar Tidak Menunjuk Anaknya
Ketika Umar bin Khattab mengalami luka parah, para sahabat meminta agar ia menunjuk pengganti.
Namun Umar tidak menunjuk anaknya, keluarganya, ataupun menetapkan satu orang secara sepihak.
Umar justru membentuk majelis syura yang terdiri atas enam sahabat utama, yakni Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Menurut Alyasa', langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan diserahkan kepada proses musyawarah.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259