JAKARTA - Pendamping Roy Suryo, Gus Nur, menantang pihak yang dapat menghadirkan ijazah asli Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam persidangan perkara Roy Suryo. Ia bahkan menyatakan bersedia mencium kaki pihak yang berhasil menghadirkan dokumen tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Gus Nur seusai sidang pembacaan nota perlawanan Roy Suryo di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (24/9/2026).
"Kalau ada yang bisa mendatangkan ijazah aslinya (Jokowi) di pengadilan, saya cium kakinya," ujar Gus Nur kepada wartawan.
Baca Juga: Ungkit Restorative Justice, Refly Harun Desak Rismon Sianipar Dijerat Pasal UU ITE Sama Seperti Roy Suryo Gus Nur mengatakan dirinya tetap meyakini ijazah Jokowi palsu. Namun, keyakinan tersebut merupakan pandangan pribadi yang dia kaitkan dengan pengalaman dalam perkara hukum yang pernah dijalaninya.
"Keimanan saya mengatakan ijazah itu palsu. Itu intinya," kata Gus Nur.
Dia mengaku pernah diberitahu penyidik Bareskrim bahwa ijazah Jokowi asli setelah penyidik disebut mendatangi kediaman Jokowi. Menurut Gus Nur, informasi tersebut hanya disampaikan kepadanya secara lisan dan tidak disertai dengan diperlihatkannya ijazah asli.
"Saya terlepas dari pidana, KUHP, apa-apa. Tapi pengalaman batin, dalil batin, ketika saya ditangkap oleh Bareskrim, disidik, penyidik mengatakan ke saya, 'Gus, ijazahnya Pak Jokowi asli. Saya sudah ke rumahnya, sudah saya foto, sudah saya pegang, asli.' Tapi cuman ngomong, tidak ditunjukkan ke saya," ujarnya.
Gus Nur juga mengatakan dokumen asli tersebut menurut pengakuannya tidak pernah diperlihatkan kepadanya hingga proses perkara yang pernah dijalaninya selesai.
"Sampai P21 sampai sidang 7 bulan di Solo, enggak pernah ada yang asli," katanya.
Gus Nur Ragukan Jokowi Hadir di Persidangan
Gus Nur juga menyatakan dirinya tidak yakin Jokowi akan hadir dalam persidangan Roy Suryo untuk menunjukkan ijazah aslinya.
"Enggak bakal datang. Keyakinan saya enggak bakal datang. Jaksa punya kemampuan, punya hak untuk itu, tapi enggak tahu kenapa (Jokowi) enggak bisa datang," ujar Gus Nur.