JAKARTA – Pemerintah akan mengevaluasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam dua bulan ke depan.
Evaluasi dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai standar dan prosedur, terutama setelah terjadi kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan santri di Sidoarjo, Jawa Timur.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan evaluasi diperlukan untuk menertibkan pelaksanaan MBG.
Baca Juga: Bupati Asahan Lepas Tim U-13 dan U-15 Berlaga di Piala Soeratin Sumut, Bidik Tiket Nasional Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kedisiplinan pihak yang terlibat dalam proses memasak hingga mendistribusikan makanan kepada penerima manfaat.
"MBG, kita kasih waktulah dua bulan ya (evaluasi), kita akan selesaikan. Karena gini, dapur bagus, semua bagus, tapi budaya. Budaya ya," kata Zulhas di Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Zulhas, kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi dapur.
Kelalaian dalam proses memasak dan distribusi juga dapat meningkatkan risiko makanan mengalami penurunan kualitas hingga menyebabkan keracunan.
Ia mencontohkan makanan yang seharusnya segera dikirim setelah dimasak justru terlambat didistribusikan.
"Misalnya masak, harusnya dikirim jam 6. Mungkin bangunnya kesiangan, dikirimnya jam 11. Itu menimbulkan keracunan. Kalau masak jam 6, makannya jam 11," tuturnya.
Zulhas mengatakan jarak waktu antara makanan selesai dimasak, dikirim, hingga dikonsumsi harus menjadi perhatian.
Menurut dia, pengaturan waktu tersebut penting untuk menjaga keamanan makanan.
"Harus ada berapa jam, kan? Kalau dikirimnya jam 11, makannya jam 3," kata Zulhas.