JAKARTA - Sejumlah warga menyatakan setuju dengan rencana pemerintah mengatur pembelian elpiji 3 kilogram (kg) berdasarkan desil. Namun, mereka meminta pemerintah memastikan data penerima subsidi benar-benar akurat agar kebijakan tersebut tidak merugikan masyarakat menengah ke bawah.
Salah satu warga, Apriyani (30), menilai pengaturan berdasarkan desil dapat membuat subsidi elpiji 3 kg lebih tepat sasaran. Menurutnya, selama ini masih ada masyarakat mampu yang membeli hingga menyimpan banyak tabung elpiji bersubsidi.
"Kalau datanya udah sesuai, saya pribadi setuju karena keenakan yang orang kaya, kalau disubsidiin juga masalah tabung gasnya," kata Apriyani, Sabtu (29/8/2026).
Baca Juga: Demi Generasi Unggul 2045 Pemko Tanjungbalai Perkuat Barisan dan Sinergi Lintas Sektor Demi Tekan Stunting Apriyani menilai pembatasan diperlukan agar subsidi energi benar-benar diterima kelompok masyarakat yang membutuhkan. Ia menyoroti adanya warga mampu yang disebut membeli dan menyimpan beberapa tabung elpiji 3 kg sekaligus.
"Bukan apa-apa nih yang mampu tuh kebanyakan mereka kayak nyetok bisa sampai empat tabung gas melon. Kan menurut saya itu kebangetan pelitnya," ujarnya.
Warga lainnya, Cici (45), juga mendukung rencana pembelian elpiji bersubsidi berdasarkan desil. Namun, ia meminta pemerintah memperbaiki data sebelum kebijakan tersebut diterapkan.
"Kalau saya sih setuju aja beli gas elpiji pakai desil, cuma datanya diperbaiki dulu biar masyarakat kelas menengah ke bawah enggak jadi korban atas kebijakan ini," kata Cici.
Menurut Cici, data desil yang akurat menjadi kunci agar subsidi elpiji dapat diberikan kepada kelompok yang tepat. Ia meminta pemerintah tidak terburu-buru memberlakukan pembatasan jika proses pemutakhiran data belum selesai.
Sementara itu, warga lainnya, Rany (28), meminta pemerintah lebih transparan dalam menentukan kelompok desil masyarakat. Ia menilai mekanisme pendataan perlu mempertimbangkan pendapatan dan kondisi ekonomi secara menyeluruh, bukan hanya melihat besarnya pengeluaran.
"Pemerintah harus lebih jujur lagi sih, kalau emang mau sensus ekonomi itu dari pendapatan dong, jangan dari pengeluaran," ujar Rany.
Menurut Rany, tingginya pengeluaran seseorang tidak selalu menggambarkan kondisi ekonominya. Pengeluaran besar bisa disebabkan utang atau tanggungan keluarga yang cukup banyak.
"Harusnya tanya pendapatannya berapa, cukup enggak buat hidupin satu keluarga, dengan harga sembako yang semakin tinggi," katanya.