JAKARTA - Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menduga ada semacam "setting" di balik kerusuhan yang terjadi setelah demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026). Dugaan itu dinilai perlu diuji melalui investigasi menyeluruh terhadap rangkaian peristiwa sebelum hingga saat kerusuhan pecah.
Bivitri yang juga pengajar di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Jentera mengatakan analisis tersebut didasarkan pada sejumlah temuan masyarakat sipil serta rangkaian aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang berlangsung pada Juni dan Agustus 2026.
"Analisis saya akan saya dasarkan pada dua hal. Pertama, temuan dari Komisi Pencari Fakta Masyarakat Sipil, waktu itu KontraS, YLBHI, dan LBH Jakarta," kata Bivitri, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: Bukan Cuma Perusuh Jalanan, Polisi Endus Ada Penggerak dan Pembiaya di Balik Kerusuhan Demo DPR "Kedua, berdasarkan aksi demo mahasiswa UI yang terjadi sebelumnya pada Juni maupun Agustus 2026. Dari dua catatan itu kalau saya melihat memang ada semacam setting terhadap apa yang terjadi kemarin itu," sambungnya.
Menurut Bivitri, salah satu hal yang perlu dicermati adalah kemunculan kelompok lain setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) bertemu dengan pimpinan DPR.
Ia menjelaskan, massa AMPB awalnya datang untuk menyampaikan aspirasi dan kemudian diikuti kelompok-kelompok lain. Setelah perwakilan AMPB selesai beraudiensi dengan pimpinan DPR dan keluar dari gedung, kelompok lain justru mulai berdatangan.
"Setting-nya dalam arti begini, satu misalnya kelompok yang datang ke sana banyak sekali. Seperti tadi disampaikan, awalnya ketika Aliansi Masyarakat Pati Bersatu datang, kemudian banyak yang ikut. Kemudian AMPB bertemu dengan pimpinan DPR, setelah itu keluar. Baru kelompok-kelompok itu datang," ujarnya.
Bivitri juga menyoroti situasi yang berkembang pada Kamis sore. Berdasarkan sejumlah rekaman media sosial dan pemberitaan, ia melihat adanya kelompok yang diduga sengaja dibenturkan dengan kelompok lainnya.
"Ada kelompok yang memang nampaknya sengaja dibenturkan. Kelompok yang mendukung program pemerintah dengan kelompok yang mengkritik, itu sore," katanya.
Karena itu, Bivitri mendorong agar kerusuhan yang terjadi pada Kamis malam diinvestigasi secara menyeluruh. Menurut dia, banyak warga maupun pengguna media sosial yang merekam kejadian sehingga rekaman tersebut dapat menjadi petunjuk untuk mengungkap rangkaian peristiwa.
"Karena saya kira sudah banyak sekali netizen yang merekam. Memang kami mendorong semua orang untuk merekam," ujarnya.
Bivitri juga menyinggung adanya kelompok yang disebut turun dari bus dengan tanda-tanda tertentu. Namun, ia menegaskan identitas maupun organisasi kelompok tersebut belum dapat dipastikan.