JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah 16.394 jiwa pada Sabtu (29/8/2026). Penambahan tersebut terjadi setelah dilakukan pembaruan dan validasi data di lapangan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Simanjuntak mengatakan penambahan data pengungsi terjadi setelah petugas melakukan pemutakhiran jumlah warga yang terdampak dan mengungsi.
"Hari ini kami mendapatkan tambahan jumlah pengungsi sebesar 16.394 orang," kata Berton dalam keterangan resmi, Sabtu (29/8/2026).
Baca Juga: Lansia dan Perempuan Paling Banyak Jadi Korban, BNPB Beber Data Terbaru Gempa NTT Menurut Berton, jumlah pengungsi sempat mengalami penurunan dalam dua hari sebelumnya. Namun, angka tersebut kembali meningkat setelah dilakukan validasi data, khususnya di Kabupaten Ngada.
Berdasarkan hasil pemutakhiran, jumlah pengungsi di Ngada yang sebelumnya tercatat 3.259 orang kini menjadi 21.552 orang.
"Setelah dilakukan validasi, di Ngada yang tadinya hanya 3.259 orang, sekarang menjadi 21.552 orang pengungsi. Jadi pengungsi-pengungsi yang ada di terpusat maupun mandiri saat ini sudah lebih akurat," ujarnya.
BNPB menjelaskan penambahan tersebut bukan semata-mata disebabkan munculnya gelombang pengungsian baru. Pemutakhiran dan validasi data di lapangan membuat jumlah warga yang mengungsi tercatat lebih akurat, baik mereka yang berada di lokasi pengungsian terpusat maupun mengungsi secara mandiri.
Di sisi lain, jumlah korban meninggal akibat gempa NTT hingga Sabtu (29/8) tidak mengalami perubahan. BNPB masih mencatat 111 orang meninggal dunia.
Mayoritas korban meninggal merupakan perempuan dengan persentase 56,4 persen. Sementara korban laki-laki tercatat 43,6 persen.
Dari kelompok usia, korban meninggal paling banyak berasal dari kelompok lanjut usia (lansia). Setelah itu disusul kelompok dewasa, anak-anak dan remaja, kemudian balita dan batita.
"Sedangkan untuk kelompok umur, yang paling besar itu adalah lansia diikuti dengan dewasa, anak dan remaja, selanjutnya ada balita dan batita," kata Berton.
Pemutakhiran data pengungsi menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana. Data yang lebih akurat diperlukan agar pemerintah dan petugas dapat menyesuaikan kebutuhan bantuan, pelayanan dasar serta penanganan warga terdampak.