JEMBRANA - Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt peak (GWp) di Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Prabowo tiba di lokasi peluncuran sekitar pukul 14.30 WIB dan disambut sejumlah menteri Kabinet Merah Putih. Di antaranya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Mensesneg Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Indra Wijaya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hingga Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa. Setelah itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan sambutan.
Baca Juga: Jelang Aksi 27 Agustus, Massa dari Pati dan Bangkalan Bersiap ke Jakarta Bawa Tuntutan Berbeda Bahlil mengatakan pengembangan energi bersih penting untuk mendukung Bali sebagai destinasi pariwisata. Menurutnya, penggunaan energi bersih dapat menjadi bagian dari upaya menjaga citra Bali sekaligus memperkuat ketahanan energi.
"Bali ini memang sudah sekian lama merencanakan untuk menarik pariwisata yang baik, maka harus memakai energi yang bersih dan kehadiran Bapak Presiden hari ini menunjukkan kecintaan Bapak Presiden kepada Bali dan Indonesia pada umumnya," kata Bahlil.
Sementara itu, Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan program PLTS 100 GWp merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air.
Pemerintah menargetkan pembangunan 100 GWp PLTS dapat dipercepat dan selesai pada 2029. Program tersebut diproyeksikan menghasilkan efisiensi biaya listrik hingga Rp73,9 triliun per tahun.
Pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan 30 GWp PLTS sekaligus menghentikan 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Indonesia sendiri disebut memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GWp. Namun, kapasitas PLTS yang telah terpasang hingga April 2026 baru sekitar 1,5 GWp.
Pembangunan PLTS 100 GWp akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama menargetkan kapasitas 17 GWp, kemudian tahap kedua 18 GWp dan tahap ketiga 30 GWp.
Selain pembangunan pembangkit skala besar, pemerintah juga memperluas akses listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Sepanjang 2025, pemerintah membangun 15 pembangkit EBT yang terdiri atas 12 PLTS dan tiga pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Total nilai pembangunan mencapai Rp103,3 miliar dan melayani 1.831 kepala keluarga serta 131 fasilitas umum.