JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan perkembangan terbaru terkait gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa yang semula tercatat bermagnitudo (M) 7 tersebut dimutakhirkan menjadi M 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan aktivitas kegempaan di wilayah NTT masih terus dipantau secara real time. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 235 gempa bumi susulan atau aftershocks setelah gempa utama.
Faisal mengatakan proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu tertentu sebelum aktivitas seismik kembali normal. Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, BMKG memperkirakan proses peluruhan alami aktivitas gempa dapat berlangsung selama 2-3 minggu.
Baca Juga: Manggarai Terparah, Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 43 Orang, 5 Bandara dan RS Ikut Rusak "BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya," kata Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Gempa tersebut merupakan gempa tektonik dangkal dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG mengidentifikasi sumber gempa berasal dari aktivitas sesar naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.
Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian tersebut dengan cepat. Peringatan dini tsunami dikeluarkan hanya dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi.
Setelah parameter gempa dinilai lebih stabil dan presisi, BMKG melakukan pemutakhiran peringatan dini tsunami sekitar 10 menit kemudian.
Guncangan gempa tersebut kemudian memicu gelombang tsunami yang terobservasi di sejumlah wilayah pesisir. BMKG menggunakan model multi-skenario untuk memperkirakan potensi ancaman dan membaginya ke dalam status Siaga dan Waspada.
Status Siaga menunjukkan potensi ketinggian tsunami antara 0,5 meter hingga 3 meter. Sementara status Waspada menunjukkan potensi ketinggian gelombang di bawah 0,5 meter.
Berdasarkan jaringan observasi muka air laut, tsunami tercatat tiba di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter. Gelombang setinggi 0,94 meter juga tercatat di Maurole, Ende.
Sementara itu, gelombang tsunami dengan ketinggian lebih dari 0,5 meter tercatat di Bulukumba dan Sape, Bima. BMKG kemudian mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut telah kembali aman.
Faisal menjelaskan gempa tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan sejumlah gempa yang pernah terjadi di wilayah Flores. Secara historis, Flores Back Arc Thrust memiliki rekam jejak gempa merusak, termasuk gempa M 7,8 pada kedalaman 28 kilometer pada 1992.